Menulis adalah salah satu bagian terindah dalam imajinasi. ^^
------
"Her feelings she hides.
Her dreams she can't find.
She's losing her mind.
She's fallen behind.
She can't find her place.
She's losing her faith.
She's fallen from grace.
She's all over the place."
------ -------
Rose, Rose!
Hatinya terbelenggu, terikat. Lihat raut wajah itu, penuh penderitaan, ketakutan, depresi. Wajah itu nyaris menangis, sedih rasanya. Matanya sembab, rambutnya acak-acakkan, dia menggenggam sesuatu, mirip seperti punyanya. Esther ingin sekali menolong Rose. Tapi dia tidak tahu caranya, tidak ada yang mau membantunya. Glenn juga tidak mau.
Dia tersiksa. Rose juga tersiksa. Jarak mereka begitu dekat, namun Rose terasa begitu jauh untuk disentuh, digapai. Lagipula, dia tidak bisa merasakan kulit Rose yang hangat, yang kadang basah oleh air mata. Dia tidak bisa.
Friday, March 27, 2009
Tuesday, March 24, 2009
Whaa..., U Must Realize it...!
God can't stop loving you.
Yes, I have love i with an everlasting love; therefore with loving kindness I have drawn u.
God can't abandon u.
Be strong and of good courage, do not fear nor be afraid of them; for the Lord ur God, he's d one who goes with u. He won't leave you nor forsake you.
God can't make a loser.
Now thanks to God who always leads us.
God can't remember sins he's chosen to forget.
I, even I, am he who blots out ur transgressions for my own sake; I won't remember ur sins.
God can't be prejudiced.
In truth I perceive that God shows no partiality. But in every nation whoever fears him and works righteousness is accepted by him.
God can't break a promise.
My covenant I won't break, nor alter the word that has gone out of my lips.
God can't get tired.
Have u not known? Have you not heard? The everlasting God, the Lord, the Creator of the ends of the earth, neither faints nor is weary.
Well, how great is our God.!
Yes, I have love i with an everlasting love; therefore with loving kindness I have drawn u.
God can't abandon u.
Be strong and of good courage, do not fear nor be afraid of them; for the Lord ur God, he's d one who goes with u. He won't leave you nor forsake you.
God can't make a loser.
Now thanks to God who always leads us.
God can't remember sins he's chosen to forget.
I, even I, am he who blots out ur transgressions for my own sake; I won't remember ur sins.
God can't be prejudiced.
In truth I perceive that God shows no partiality. But in every nation whoever fears him and works righteousness is accepted by him.
God can't break a promise.
My covenant I won't break, nor alter the word that has gone out of my lips.
God can't get tired.
Have u not known? Have you not heard? The everlasting God, the Lord, the Creator of the ends of the earth, neither faints nor is weary.
Well, how great is our God.!
Redemption
Sejenak, aku punya cerita singkat.
Lampu disko gemerlap, terang-redup, warna-warna sekilas menyilaukan mata. Ah, di sinilah. Di sini tempat orang yang tak mengenal saling mengenal, tempat orang yang tak peduli siapa kamu dan dari mana kamu berasal, tempat yang sangat cuek, sekaligus hangat, ramah.
Lalu, mata elang itu begitu berbahaya mengintai mangsa. Gadis-gadis cantik, tua-muda, pakaian serba minim atau hanya sekedar gaun, seolah-olah menyiram wajahnya dengan air yang sangat dingin, membukakan setiap kelopak mata yang tertutup, tapi juga melilit otak.
Lagi-lagi, pikirannya menyela. Benar, ya, tujuannya bukan mengintai mangsa, tapi memburu mangsa yang telah kabur. Sialnya, kenapa matanya tak bisa tidak melirik yang lain, atau dia memang orang brengsek, yang menggunakan kata-kata klise seperti; ah, pria juga manusia. Berkaitan dengan teori itu, dia toh juga tidak benar-benar ingin melakukan yang lebih daripada sekedar melihat--setidaknya bukan sekarang.
Dia meremas rambutnya, nyaris stres atau malah sudah depresi, dia masih sulit membedakannya. Pikirannya berkecamuk antara, dia pasti sudah gila mencari gadis baik-baik di bar, tapi masalahnya, matanya melihat gadis itu bersama orang lain masuk ke dalam bar, bar ini. Tidak mungkin mata yang terlatih melirik gadis-gadis itu bisa salah melihat gadis!
Ada yang menyentuh bahunya, dia sedikit tersentak, lalu menyamarkan ekspresinya. Dilihatnya gadis itu dengan gaun merah yang panjangnya setengah di atas lutut, duduk di sampingnya dengan sangat terlatih, lalu tersenyum dengan ekspresi yang sudah dia tahu bahwa senyumnya itu memikat.
"Sendirian?" tanyanya, gayanya anggun.
"Nanti saja," katanya masih frustasi.
Gadis itu tertawa kecil, tak percaya dirinya ditolak mentah-mentah. "Ada apa denganmu, Dennis? Rasanya jarang melihat seorang playboy sialan sepertimu meratapi diri di bar?"
"Pergilah, Sheil. Nanti saja aku memanggilmu," ujarnya tak menatap gadis rupawan itu sama sekali.
Gadis itu mendorong bahu Dennis dengan gemas. "Sialan kamu, Dennis. Begitukah caramu memperlakukan aku? Siapa yang sedang diratapi? Dirimu, atau gadis lain? Yang mana lagi? Apa aku benar-benar tidak memegang piala jenis apa pun di hatimu, hah?"
Dennis diam, Sheila semakin marah.
"Dennis!"
"Aku mau mencari gadis lain. Sudah bosan," katanya dingin.
Dia pergi, tak peduli gadis tadi mendesis, menyumpah-nyumpah entah apa yang dikatakannya.
Celena, Celena, maafkan aku, batinnya meraung frustasi.
Tidak salah lagi, dia benar-benar melihat Celena sekarang, beberapa jarak di depannya, bersama seorang yang lain, dia tidak tahu, tapi mereka bergandengan tangan.
Rasa marah menggantikan rasa frustasinya, Dennis mengikuti.
Dia bosan, melihat cowok itu membelai rambut Celena, sesekali menatap ke arahnya, tatapan itu jelas sekali, sepertinya cowok itu ingin memakan Celena. Pikirannya membuat Dennis makin geram.
Tibalah saat dia harus mengejar Celena dengan taksi ketika cowok itu membawa Celena ke tempat kosnya dengan motor. Amarah diredamnya sedemikian rupa, banyak sekali yang ingin dilontarkannya pada Celena, lebih-lebih dia ingin menjelaskan sesuatu.
Dennis mengakui dia memang brengsek, dia memang mudah mencintai gadis-gadis mana saja. Itulah dia, Celena hanya tidak bisa menerimanya. Tapi Waris menyadarkannya, sahabat itu mengetahui bahwa dirinya menyukai Celena lebih daripada yang lainnya. Dan cemburunya tadi memang beralasan, bukan buta.
Dia telah sampai, tapi Celena dan cowok itu sampai lebih dulu, bedanya sang cowok belum pulang dan sepertinya menahan gadis itu untuk masuk ke dalam. Dennis marah lagi, tidak tahan rasanya.
Tapi kali ini dia punya alasan untuk keluar dari taksi dan menyerang cowok itu dengan ganas, Celena menolak menciumnya, tapi cowok itu memaksa.
"Dennis!" seru Celena.
Dia tak peduli terkena tinjuan balasan, yang penting dia bisa melampiaskan amarahnya. Apalagi korban pelampiasannya jatuh tepat sasaran, kalah telak, kabur lagi.
"Celena," panggil Dennis terengah-engah.
"Aku bisa membuatnya pergi baik-baik tanpa harus memukulnya," geram Celena dingin.
"Jangan bahas itu."
"Jangan memerintah aku."
"Kenapa kamu pergi dengan dia?!" sembur Dennis kesal.
"Apa urusannya?"
"Celena, tolonglah," rasa-rasanya dia jadi semakin frustasi.
"Apa, Dennis?"
"Maaf."
"Lupakan."
"Apa?"
"Tidak apa-apa. Selamat malam."
"Tunggu," Dennis mencekal lengannya.
Celena merintih, tapi Dennis tak melepasnya. Gadis itu memandangnya sengit, "Apa ada Dennis yang lain yang akan membantuku menghajarmu?" serangnya dingin.
"Celena, apa yang membuatmu begitu marah?"
"Apa menurutmu aku tidak berhak marah?"
"Apa kamu selalu membalas pertanyaan dengan pertanyaan lagi?"
"Tapi yang kutanyakan benar, Dennis!"
"Oke," putusnya, "Aku mengerti. Kamu berhak marah, karena aku begitu jahat."
"Dennis, tidak segampang yang kamu pikirkan. Aku mau pulang."
******
Itulah percakapan terakhir Dennis dan Celena yang berakhir dengan kemarahan masih memuncak di kepala Dennis. Dia memang terlanjur salah, tapi salahkah dia jika dia ingin meminta maaf dan semuanya akan kembali baik-baik saja? Lalu jawabannya dia temukan di akhir pembicaraannya dengan Celena, tidak segampang itu.
Dia menyukai Celena, begitu juga Celena. Dia memulai hal yang salah, Celena membalasnya dengan cowok lain. Lalu, mereka kembali lagi. Hanya saja Celena berbeda. Celena tidak lagi seperti dulu. Itu. Itulah kesimpulannya.
******
"Aku senang kamu kembali," ujar Dennis dengan kebahagiaan yang tak bisa ditutup-tutupi.
Celena senang. Karena itu berarti dia berhasil, membuat Dennis bahagia dalam waktu 3 hari, lalu membuat Dennis terpuruk, untuk waktu yang lama. "Aku sudah lama lupa padamu."
"Jangan bercanda," katanya sambil menyentuh dagu Celena.
"Kamu melihat aku tidak bercanda, Dennis."
"Apa maksudmu? Kamu memaafkan aku dan, demi Tuhan, 3 hari ini baik-baik saja!" serunya.
Celena terlalu tenang untuk Dennis yang gampang emosi. "Aku hanya ingin mengajarkan sesuatu, itu saja."
"Apa?"
"Kamu tahu sendiri. Nah, selamat tinggal."
Celena pergi, meninggalkan Dennis yang masih tertegun dengan kata-katanya. Dia sakit hati. Dia tahu dia telah menyakiti Dennis. Tapi niatnya sudah diteguhkan sejak dulu, dia tidak mau usahanya sia-sia.
******
Tujuh hari sudah berlalu.
Celena berhadapan dengan Waris sekarang.
"Dia menyesal. Dia bahagia setelah tahu kamu memaafkannya. Tapi tiba-tiba kamu pergi," Waris menerangkan.
"Apa benar seorang playboy seperti dia bisa terluka sedemikian parahnya karena aku?"
"Percaya atau tidak, jawabannya iya."
Celena terdiam.
"Tapi untuk apa ini semua? Kalau kamu juga memiliki rasa yang sama seperti Dennis?"
"Karena dia terlalu melukaiku, Ris."
******
Lampu disko gemerlap, terang-redup, warna-warna sekilas menyilaukan mata. Ah, di sinilah. Di sini tempat orang yang tak mengenal saling mengenal, tempat orang yang tak peduli siapa kamu dan dari mana kamu berasal, tempat yang sangat cuek, sekaligus hangat, ramah.
Lalu, mata elang itu begitu berbahaya mengintai mangsa. Gadis-gadis cantik, tua-muda, pakaian serba minim atau hanya sekedar gaun, seolah-olah menyiram wajahnya dengan air yang sangat dingin, membukakan setiap kelopak mata yang tertutup, tapi juga melilit otak.
Lagi-lagi, pikirannya menyela. Benar, ya, tujuannya bukan mengintai mangsa, tapi memburu mangsa yang telah kabur. Sialnya, kenapa matanya tak bisa tidak melirik yang lain, atau dia memang orang brengsek, yang menggunakan kata-kata klise seperti; ah, pria juga manusia. Berkaitan dengan teori itu, dia toh juga tidak benar-benar ingin melakukan yang lebih daripada sekedar melihat--setidaknya bukan sekarang.
Dia meremas rambutnya, nyaris stres atau malah sudah depresi, dia masih sulit membedakannya. Pikirannya berkecamuk antara, dia pasti sudah gila mencari gadis baik-baik di bar, tapi masalahnya, matanya melihat gadis itu bersama orang lain masuk ke dalam bar, bar ini. Tidak mungkin mata yang terlatih melirik gadis-gadis itu bisa salah melihat gadis!
Ada yang menyentuh bahunya, dia sedikit tersentak, lalu menyamarkan ekspresinya. Dilihatnya gadis itu dengan gaun merah yang panjangnya setengah di atas lutut, duduk di sampingnya dengan sangat terlatih, lalu tersenyum dengan ekspresi yang sudah dia tahu bahwa senyumnya itu memikat.
"Sendirian?" tanyanya, gayanya anggun.
"Nanti saja," katanya masih frustasi.
Gadis itu tertawa kecil, tak percaya dirinya ditolak mentah-mentah. "Ada apa denganmu, Dennis? Rasanya jarang melihat seorang playboy sialan sepertimu meratapi diri di bar?"
"Pergilah, Sheil. Nanti saja aku memanggilmu," ujarnya tak menatap gadis rupawan itu sama sekali.
Gadis itu mendorong bahu Dennis dengan gemas. "Sialan kamu, Dennis. Begitukah caramu memperlakukan aku? Siapa yang sedang diratapi? Dirimu, atau gadis lain? Yang mana lagi? Apa aku benar-benar tidak memegang piala jenis apa pun di hatimu, hah?"
Dennis diam, Sheila semakin marah.
"Dennis!"
"Aku mau mencari gadis lain. Sudah bosan," katanya dingin.
Dia pergi, tak peduli gadis tadi mendesis, menyumpah-nyumpah entah apa yang dikatakannya.
Celena, Celena, maafkan aku, batinnya meraung frustasi.
Tidak salah lagi, dia benar-benar melihat Celena sekarang, beberapa jarak di depannya, bersama seorang yang lain, dia tidak tahu, tapi mereka bergandengan tangan.
Rasa marah menggantikan rasa frustasinya, Dennis mengikuti.
Dia bosan, melihat cowok itu membelai rambut Celena, sesekali menatap ke arahnya, tatapan itu jelas sekali, sepertinya cowok itu ingin memakan Celena. Pikirannya membuat Dennis makin geram.
Tibalah saat dia harus mengejar Celena dengan taksi ketika cowok itu membawa Celena ke tempat kosnya dengan motor. Amarah diredamnya sedemikian rupa, banyak sekali yang ingin dilontarkannya pada Celena, lebih-lebih dia ingin menjelaskan sesuatu.
Dennis mengakui dia memang brengsek, dia memang mudah mencintai gadis-gadis mana saja. Itulah dia, Celena hanya tidak bisa menerimanya. Tapi Waris menyadarkannya, sahabat itu mengetahui bahwa dirinya menyukai Celena lebih daripada yang lainnya. Dan cemburunya tadi memang beralasan, bukan buta.
Dia telah sampai, tapi Celena dan cowok itu sampai lebih dulu, bedanya sang cowok belum pulang dan sepertinya menahan gadis itu untuk masuk ke dalam. Dennis marah lagi, tidak tahan rasanya.
Tapi kali ini dia punya alasan untuk keluar dari taksi dan menyerang cowok itu dengan ganas, Celena menolak menciumnya, tapi cowok itu memaksa.
"Dennis!" seru Celena.
Dia tak peduli terkena tinjuan balasan, yang penting dia bisa melampiaskan amarahnya. Apalagi korban pelampiasannya jatuh tepat sasaran, kalah telak, kabur lagi.
"Celena," panggil Dennis terengah-engah.
"Aku bisa membuatnya pergi baik-baik tanpa harus memukulnya," geram Celena dingin.
"Jangan bahas itu."
"Jangan memerintah aku."
"Kenapa kamu pergi dengan dia?!" sembur Dennis kesal.
"Apa urusannya?"
"Celena, tolonglah," rasa-rasanya dia jadi semakin frustasi.
"Apa, Dennis?"
"Maaf."
"Lupakan."
"Apa?"
"Tidak apa-apa. Selamat malam."
"Tunggu," Dennis mencekal lengannya.
Celena merintih, tapi Dennis tak melepasnya. Gadis itu memandangnya sengit, "Apa ada Dennis yang lain yang akan membantuku menghajarmu?" serangnya dingin.
"Celena, apa yang membuatmu begitu marah?"
"Apa menurutmu aku tidak berhak marah?"
"Apa kamu selalu membalas pertanyaan dengan pertanyaan lagi?"
"Tapi yang kutanyakan benar, Dennis!"
"Oke," putusnya, "Aku mengerti. Kamu berhak marah, karena aku begitu jahat."
"Dennis, tidak segampang yang kamu pikirkan. Aku mau pulang."
******
Itulah percakapan terakhir Dennis dan Celena yang berakhir dengan kemarahan masih memuncak di kepala Dennis. Dia memang terlanjur salah, tapi salahkah dia jika dia ingin meminta maaf dan semuanya akan kembali baik-baik saja? Lalu jawabannya dia temukan di akhir pembicaraannya dengan Celena, tidak segampang itu.
Dia menyukai Celena, begitu juga Celena. Dia memulai hal yang salah, Celena membalasnya dengan cowok lain. Lalu, mereka kembali lagi. Hanya saja Celena berbeda. Celena tidak lagi seperti dulu. Itu. Itulah kesimpulannya.
******
"Aku senang kamu kembali," ujar Dennis dengan kebahagiaan yang tak bisa ditutup-tutupi.
Celena senang. Karena itu berarti dia berhasil, membuat Dennis bahagia dalam waktu 3 hari, lalu membuat Dennis terpuruk, untuk waktu yang lama. "Aku sudah lama lupa padamu."
"Jangan bercanda," katanya sambil menyentuh dagu Celena.
"Kamu melihat aku tidak bercanda, Dennis."
"Apa maksudmu? Kamu memaafkan aku dan, demi Tuhan, 3 hari ini baik-baik saja!" serunya.
Celena terlalu tenang untuk Dennis yang gampang emosi. "Aku hanya ingin mengajarkan sesuatu, itu saja."
"Apa?"
"Kamu tahu sendiri. Nah, selamat tinggal."
Celena pergi, meninggalkan Dennis yang masih tertegun dengan kata-katanya. Dia sakit hati. Dia tahu dia telah menyakiti Dennis. Tapi niatnya sudah diteguhkan sejak dulu, dia tidak mau usahanya sia-sia.
******
Tujuh hari sudah berlalu.
Celena berhadapan dengan Waris sekarang.
"Dia menyesal. Dia bahagia setelah tahu kamu memaafkannya. Tapi tiba-tiba kamu pergi," Waris menerangkan.
"Apa benar seorang playboy seperti dia bisa terluka sedemikian parahnya karena aku?"
"Percaya atau tidak, jawabannya iya."
Celena terdiam.
"Tapi untuk apa ini semua? Kalau kamu juga memiliki rasa yang sama seperti Dennis?"
"Karena dia terlalu melukaiku, Ris."
******
Sunday, March 22, 2009
I'm Desperate Without You
Aku tidak masuk. Lagi. kata-kata yang membuatku teringat pada hal-hal yang terjadi berulang-ulang, dan itu identik dengan kebosanan. Sesekali aku memikirkan kapan aku bisa baik-baik saja, tapi yang memperparah kondisi adalah, bahwa--aku tidak bisa menenangkan pikiranku.
Amukan dan hantu-hantu pikiran merayap masuk, menembus arus-arus mimpiku, jadi--alangkah baiknya jika hari ini berlalu dan besok aku tak perlu menghabiskan waktu di tempat tidur--juga, aku tak mau tertidur. Tapi besok rasanya masih mustahil untuk berkeinginan demikian.
Kutarik napasku. Lega sejenak karena pikiranku teralihkan, lalu panik ketika ternyata 'hantu-hantu' itu mempersiapkan diri untuk mengepungku dari berbagai sudut. Demi Tuhan, hantu-hantunya begitu nyata dan membuatku terseret masuk ke dalam dunianya.
Satu lagi yang menjejal pikiranku sejak pagi adalah, tentang betapa cepatnya hari-hari itu datang, namun betapa lambatnya aku merasakan itu hari ini.
Itulah sebabnya aku tak ingin berdiam di tempat yang sama, di sini, sendiri pula. Aku menginginkan sesuatu yang berarti dan menimbulkan sensasi atau memacu adrenalin sekalian, tapi tak ada gunanya jika itu kulakukan sendirian (dalam arti lain--tentunya).
Lalu begitu seterusnya, hingga jika kujabarkan, semuanya akan membentuk lingkaran yang tidak ada ujungnya, sampai pertengahan tahun membuktikan semuanya. Ah, masa?
Amukan dan hantu-hantu pikiran merayap masuk, menembus arus-arus mimpiku, jadi--alangkah baiknya jika hari ini berlalu dan besok aku tak perlu menghabiskan waktu di tempat tidur--juga, aku tak mau tertidur. Tapi besok rasanya masih mustahil untuk berkeinginan demikian.
Kutarik napasku. Lega sejenak karena pikiranku teralihkan, lalu panik ketika ternyata 'hantu-hantu' itu mempersiapkan diri untuk mengepungku dari berbagai sudut. Demi Tuhan, hantu-hantunya begitu nyata dan membuatku terseret masuk ke dalam dunianya.
Satu lagi yang menjejal pikiranku sejak pagi adalah, tentang betapa cepatnya hari-hari itu datang, namun betapa lambatnya aku merasakan itu hari ini.
Itulah sebabnya aku tak ingin berdiam di tempat yang sama, di sini, sendiri pula. Aku menginginkan sesuatu yang berarti dan menimbulkan sensasi atau memacu adrenalin sekalian, tapi tak ada gunanya jika itu kulakukan sendirian (dalam arti lain--tentunya).
Lalu begitu seterusnya, hingga jika kujabarkan, semuanya akan membentuk lingkaran yang tidak ada ujungnya, sampai pertengahan tahun membuktikan semuanya. Ah, masa?
Fidgetiness
Kenangan bisa jadi surga yang tak ingin kita ditinggalkan, tapi kenangan bisa jadi neraka yang tak bisa dihindari...
Setiap hitungan, setiap detik, setiap hembusan, semakin cepat membawaku pada ujung tanggal, lalu awal tanggal. Begitu berjalan aku merasa terlalu cepat. Aku menginginkan hari ini selesai, tapi tak ingin besok berlalu. Aku resah.
Hari ini aku takut, entah kenapa. Bahkan ketika tertawa, aku digerayangi ketakutan. Aku mengerti semua yang kualami ini begitu manusiawi dan juga fana. Yaaa..., aku bingung. ya, ya, dan iya.
Aku tahu aku harus melakukan apa, tapi tidak semuanya tersedia di depan mata, jadi di sinilah aku, terperangkap dengan banyak jalan tapi semuanya abu-abu.
Setiap hitungan, setiap detik, setiap hembusan, semakin cepat membawaku pada ujung tanggal, lalu awal tanggal. Begitu berjalan aku merasa terlalu cepat. Aku menginginkan hari ini selesai, tapi tak ingin besok berlalu. Aku resah.
Hari ini aku takut, entah kenapa. Bahkan ketika tertawa, aku digerayangi ketakutan. Aku mengerti semua yang kualami ini begitu manusiawi dan juga fana. Yaaa..., aku bingung. ya, ya, dan iya.
Aku tahu aku harus melakukan apa, tapi tidak semuanya tersedia di depan mata, jadi di sinilah aku, terperangkap dengan banyak jalan tapi semuanya abu-abu.
Monday, March 16, 2009
Truly Madly Deeply
"Something happened
For not the very first time with you
But, my heart melts into the ground"
Izinkanlah aku sekali lagi.
Entah apa yang kurasa, bahwa kata-kata ini berasal dari hati.
Mengingat pertanyaannya, saat pertama kali bertemu?
Aku menjawab tidak. Saat itu aku tidak menghiraukannya.
Mengulang pertanyaannya, saat dia berbicara pertama kali?
Aku menjawab lagi, tidak. Saat itu aku membicarakan orang lain.
Saat pertama kali menatapnya?
Aku menjawab tidak, lagi-lagi. Saat itu aku berusaha mati-matian mencintai orang lain.
Lalu kapan?
Satu. Dua. Tiga. Empat. Hitunglah terus... aku juga sedang mencari.
Akh..., sudah berhenti, Sayang.
Lihatlah, hati yang telah tertutup dan berusaha keras membeku.
Gelengan adalah jawaban yang benar.
Saat tersulit adalah ketika aku tahu dia di depanku, tapi dia tak tahu aku membutuhkannya.
Saat terindah adalah ketika aku mengenalnya.
Saat terluka adalah ketika aku diam.
Saat terlama adalah ketika aku berada dalam posisiku sekarang ini.
Tapi saat-saat itu menjadikan aku kompleks. Aku mengerti, aku memahami, aku merasakan, aku berpikir, aku tenggelam, aku terluka, dan aku bahagia.
Setiap yang telah selesai adalah akhir dan awal, kau tahu bahwa aku telah mengusahakannya, tanpa kepasrahan
For not the very first time with you
But, my heart melts into the ground"
Izinkanlah aku sekali lagi.
Entah apa yang kurasa, bahwa kata-kata ini berasal dari hati.
Mengingat pertanyaannya, saat pertama kali bertemu?
Aku menjawab tidak. Saat itu aku tidak menghiraukannya.
Mengulang pertanyaannya, saat dia berbicara pertama kali?
Aku menjawab lagi, tidak. Saat itu aku membicarakan orang lain.
Saat pertama kali menatapnya?
Aku menjawab tidak, lagi-lagi. Saat itu aku berusaha mati-matian mencintai orang lain.
Lalu kapan?
Satu. Dua. Tiga. Empat. Hitunglah terus... aku juga sedang mencari.
Akh..., sudah berhenti, Sayang.
Lihatlah, hati yang telah tertutup dan berusaha keras membeku.
Gelengan adalah jawaban yang benar.
Saat tersulit adalah ketika aku tahu dia di depanku, tapi dia tak tahu aku membutuhkannya.
Saat terindah adalah ketika aku mengenalnya.
Saat terluka adalah ketika aku diam.
Saat terlama adalah ketika aku berada dalam posisiku sekarang ini.
Tapi saat-saat itu menjadikan aku kompleks. Aku mengerti, aku memahami, aku merasakan, aku berpikir, aku tenggelam, aku terluka, dan aku bahagia.
Setiap yang telah selesai adalah akhir dan awal, kau tahu bahwa aku telah mengusahakannya, tanpa kepasrahan
Friday, March 13, 2009
Sassy
Hidup tak pernah lepas dari hal paling klise sekali pun...
Aku tak lagi berpikir, mengenai segala sesuatunya, mengapa, bagaimana, dan segala kata tanya yang membuatmu begitu haus untuk menginginkan jawabannya.
Sesaat dirimu diliputi dengan rasa yang ini, lalu rasa yang itu, kupikir, wajar jika berganti-ganti dengan cepat.
Lelah dengan menyusun setiap detil katanya, hanya agar kau tak salah mengerti. Ah, jangan berpikir, 'kau' adalah 'kamu'.
Aku tak lagi mengerti bagaimana aku harus mengetik dengan teratur, rapi, dan lagi seharusnya mampu mencurahkan semua yang ingin kuungkapkan.
Tapi tahu tidak, tanganku bergerak seakan meninggalkan pikiranku di belakang. Haha, sekarang aku tertawa.
Aku menopang daguku, kemudian menurunkannya dan mengetik lagi, mengetik saat aku sedang tak lagi menopang dagu. Tahukah arti dari kalimat di atas?
Kacau, gelisah, bimbang, tawa, canda, tarian... banyak hal yang bisa dilakukan. Banyak sekali, setelah sadar tentunya.
Nah, bertanya-tanyakah kau apa maksud dari semua tulisanku di atas? Aku mengangkat bahu.
Hm... lepas dari segala makna tersirat, aku tak lagi bisa memainkan kata. Aku ingat beberapa hari ke depan, lalu aku sadar semuanya begitu cepat. Pemblokiranku berhasil, kau tahu. Aku senantiasa terlelap saat malam tiba, tapi nyaris sepersekian menit sebelum jarum panjang dan pendek mulai menyatu. Aku tak lagi phobia kembang api ngomong-ngomong.
Apa lagi, ya? Aku cinta menari. Sesuatu dalam tubuhku melonjak bergairah, ketika berputar, menunduk, melompat, dan... yang jelas, aku jatuh cinta.
Aku mengikuti suatu komunitas baru, dengan wajah-wajah lama di masa lalu dan masa kini, tapi kejanggalan kudapati beberapa di sana.
...
Yakinlah, tak ada maksud apa-apa selain hanya ingin mengobrol dengan diri sendiri di sini.
Lalu, malam ini, aku berkutat pada kata 'download' berkali-kali agar tiket-tiket itu terpesan dan tercetak malam ini, betapa menyusahkannya hal ini, menunggu, tak pernah aku mendengar orang suka dengan menunggu.
Kata-kata dalam bahasa yang tak kumengerti, mendengungkan nyanyian terhadap penciptaNya, membuat hatiku ikut melantunkan irama itu. Aku jadi tersenyum lagi.
Aku menghembuskan napas. Kenapa lagi aku. Pernahkan berpikir kalau manusia itu kompleks sekali? Juga tak ada yang serumit manusia, apalagi pikirannya.
Pernah tahu tidak, berperang dalam pikiran sendiri? rasanya seperti..., hm..., seperti kau ingin keluar dari tubuhmu.
p.s: kamu sudah tua sebelum hari jadimu besok Sabtu.
Aku tak lagi berpikir, mengenai segala sesuatunya, mengapa, bagaimana, dan segala kata tanya yang membuatmu begitu haus untuk menginginkan jawabannya.
Sesaat dirimu diliputi dengan rasa yang ini, lalu rasa yang itu, kupikir, wajar jika berganti-ganti dengan cepat.
Lelah dengan menyusun setiap detil katanya, hanya agar kau tak salah mengerti. Ah, jangan berpikir, 'kau' adalah 'kamu'.
Aku tak lagi mengerti bagaimana aku harus mengetik dengan teratur, rapi, dan lagi seharusnya mampu mencurahkan semua yang ingin kuungkapkan.
Tapi tahu tidak, tanganku bergerak seakan meninggalkan pikiranku di belakang. Haha, sekarang aku tertawa.
Aku menopang daguku, kemudian menurunkannya dan mengetik lagi, mengetik saat aku sedang tak lagi menopang dagu. Tahukah arti dari kalimat di atas?
Kacau, gelisah, bimbang, tawa, canda, tarian... banyak hal yang bisa dilakukan. Banyak sekali, setelah sadar tentunya.
Nah, bertanya-tanyakah kau apa maksud dari semua tulisanku di atas? Aku mengangkat bahu.
Hm... lepas dari segala makna tersirat, aku tak lagi bisa memainkan kata. Aku ingat beberapa hari ke depan, lalu aku sadar semuanya begitu cepat. Pemblokiranku berhasil, kau tahu. Aku senantiasa terlelap saat malam tiba, tapi nyaris sepersekian menit sebelum jarum panjang dan pendek mulai menyatu. Aku tak lagi phobia kembang api ngomong-ngomong.
Apa lagi, ya? Aku cinta menari. Sesuatu dalam tubuhku melonjak bergairah, ketika berputar, menunduk, melompat, dan... yang jelas, aku jatuh cinta.
Aku mengikuti suatu komunitas baru, dengan wajah-wajah lama di masa lalu dan masa kini, tapi kejanggalan kudapati beberapa di sana.
...
Yakinlah, tak ada maksud apa-apa selain hanya ingin mengobrol dengan diri sendiri di sini.
Lalu, malam ini, aku berkutat pada kata 'download' berkali-kali agar tiket-tiket itu terpesan dan tercetak malam ini, betapa menyusahkannya hal ini, menunggu, tak pernah aku mendengar orang suka dengan menunggu.
Kata-kata dalam bahasa yang tak kumengerti, mendengungkan nyanyian terhadap penciptaNya, membuat hatiku ikut melantunkan irama itu. Aku jadi tersenyum lagi.
Aku menghembuskan napas. Kenapa lagi aku. Pernahkan berpikir kalau manusia itu kompleks sekali? Juga tak ada yang serumit manusia, apalagi pikirannya.
Pernah tahu tidak, berperang dalam pikiran sendiri? rasanya seperti..., hm..., seperti kau ingin keluar dari tubuhmu.
p.s: kamu sudah tua sebelum hari jadimu besok Sabtu.
Monday, March 2, 2009
You Never Know !!
Ketika hati ini terluka, aku berusaha untuk tidak menjerit.
Ketika pikiran ini tahu, aku berusaha untuk menutupnya.
Ketika diri ini tak kuasa menahan, aku dipaksa untuk patuh.
Tak bolehkah aku mengutarakan sedikit saja atas apa yang kuanggap tak adil?
Sebagian dari diriku tahu aku harus membuang segalanya, karena segala yang tercipta dan yang terjadi, bukan lagi bagian dari masa ini.
Aku merasakan nafas memburu, amarah, segala rasa yang tak mampu kutahan sendiri.
Kadang, seseorang harus merasakan baru mengerti.
Aku tahu aku tak bisa mengungkapkan semuanya.
Aku tahu aku hanyalah bidak catur dan tak mungkin berganti peran.
Bahkan saat ini, bukan aku lagi yang mengatur hati.
Tidakkah kau tahu betapa sulitnya semua ini?
Tidakkah kau mengerti aku ingin sekali melakukannya hingga terlepas--tapi aku tak mampu?
Tidakkah kau menduga aku juga mempunyai keinginan yang sama denganmu? Tapi bedanya aku tak bisa. Benar-benar tidak bisa.
Tidakkah kau tahu sejauh ini aku tak pernah berhenti memikirkan segalanya?
Dan...
Tidakkah kau tahu bahwa permintaanmu berada jauh di luar batas kemampuanku? Tapi aku tahu, kau tak pernah mau peduli.
Ketika pikiran ini tahu, aku berusaha untuk menutupnya.
Ketika diri ini tak kuasa menahan, aku dipaksa untuk patuh.
Tak bolehkah aku mengutarakan sedikit saja atas apa yang kuanggap tak adil?
Sebagian dari diriku tahu aku harus membuang segalanya, karena segala yang tercipta dan yang terjadi, bukan lagi bagian dari masa ini.
Aku merasakan nafas memburu, amarah, segala rasa yang tak mampu kutahan sendiri.
Kadang, seseorang harus merasakan baru mengerti.
Aku tahu aku tak bisa mengungkapkan semuanya.
Aku tahu aku hanyalah bidak catur dan tak mungkin berganti peran.
Bahkan saat ini, bukan aku lagi yang mengatur hati.
Tidakkah kau tahu betapa sulitnya semua ini?
Tidakkah kau mengerti aku ingin sekali melakukannya hingga terlepas--tapi aku tak mampu?
Tidakkah kau menduga aku juga mempunyai keinginan yang sama denganmu? Tapi bedanya aku tak bisa. Benar-benar tidak bisa.
Tidakkah kau tahu sejauh ini aku tak pernah berhenti memikirkan segalanya?
Dan...
Tidakkah kau tahu bahwa permintaanmu berada jauh di luar batas kemampuanku? Tapi aku tahu, kau tak pernah mau peduli.
Subscribe to:
Posts (Atom)