Aah....! I hate this.
Kenapa kamu senang sekali dengan yang namanya complain? Yeah, this is about you.
Sudahlah, tidak perlu dibahas.
Hari ini...,
1. Aku benci pertengkaran.
Ingin rasanya aku mengurai semua yang ada di benakku tentang fakta ini, "pertengkaran". Tapi sayang, dunia maya juga bukan lagi dunia yang aman untuk curhat sampai blak-blakan.
Baiklah, ini yang kedua:
2. Tidak ada tempat curhat.
Saat aku berkeinginan untuk mengetik semua kata yang tumpah ruah di pikiranku, aku berhenti menarikan jari-jemariku. Kau tahu kenapa? Karena aku menghargai privasi, tapi orang-orang yang kukenal terbiasa dengan yang namanya mengumbar privasi, well, bahasa halusnya adalah suka ikut campur, aduh, itu juga bukan bahasa halus. Itulah mengapa, aku benci hal ini.
Tidak, tidak. Jangan berkomentar kalau yang membaca tulisanku ini adalah kebetulan, para saints yang aku--sudah--cukup--muak--dengan--tingkah--kalian--semua. Aku tidak menerima kritikan lagi.
3. Seseorang yang aku cintai kadang-kadang menyebalkan.
Tahu tidak, kadang-kadang kamu merusak suasana hati. Dan kadang-kadang mood-mu berubah-ubah. Aku bingung. Dan seakan karenamu, aku terbawa arus mood yang berganti-ganti.
Ahh.. cukup sudah untuk hari ini. Aku tidak ingin memperpanjang daftar ke-4, ke-5, ke-6, dan seterusnya....
Tuesday, August 30, 2011
Saturday, August 27, 2011
True Friend
Meskipun aku tidak bisa mengingkari bahwa sebegitu banyaknya masalah yang bertumpuk, tapi hari ini, ada sepotong kalimat yang membuatku menganggukkan kepala berkali-kali, serta merekam kalimat itu berulang-ulang dalam benakku, hanya supaya aku mengingat, dan juga melakukannya, ini dia : "Pilihlah kebahagiaan. Setiap detik kau memilih marah atau bersedh, saat itu pula kau melepas kebahagiaanmu."
Mudah, ya. Sulit, ya betul juga. Kontranya adalah, mana ada orang yang bisa merasa bahagia saat semua hal, semua kesulitan menekanmu pada saat yang bersamaan, bertumpuk pula? lalu, mana ada orang yang bisa tertawa--jangankan tertawa, tersenyum pun, saat kau seolah berjalan di atas batu-batu yang tajam?
Pro-nya adalah, singkat saja, lakukan saja, dan lihat hasilnya.
Tidak ada yang sebegitu spesial hari ini, tidak ada kejutan menarik hari ini, apalagi di saat aku begitu merindukan seseorang, atau mungkin orang-orang yang lain yang juga memiliki status penting di hatiku, dulu.
Tapi ada satu hal..., yang membuatku ingin bercerita, dan mengetikkan huruf-huruf pada blog ini.
Aku memiliki seorang teman, yah jika bisa dibilang seperti itu. Pada awalnya, kami tidak dekat, kami juga tidak punya keharusan untuk saling mengenal satu sama lain. Dan sampai sekarang begitu. Tapi anehnya, dalam dirinya yang phlegmatis melankolis, aku merasakan aura yang sama pada diriku, ketika aku tiba-tiba merasa jalan pikiran kami sama, atau kadang-kadang kami merasa hal yang sama.
Aku sedang membicarakan seorang teman.
Aku senang ketika melihatnya tersenyum, sekalipun ia jarang sekali tertawa lepas. Sesekali aku memperhatikannya, dan bertanya-tanya bagaimana caranya supaya dia bisa melepaskan sedikit bebannya, dan membaur dalam kebersamaan atau kebahagiaan.
Apakah itu sebuah empati? Mungkin. Aku bisa merasakannya, sekalipun aku dan dirinya tidak memiliki masalah yang serupa. Masalah kami jauh berbeda, atau mungkin ada yang sama, tapi kami beda total. Bahkan, aku tidak tahu dengan persis apa yang dia alami, tapi aku tahu itu berat.
Hanya perasaan yang dia rasakan, seolah menyerupai apa yang aku rasakan.
Rasa hangat mengalir dalam hatiku ketika aku melihatnya tertawa. Aku hanya tidak bisa melihatnya stress. Tidak, itu menyedihkan. Sekalipun aku ingin mengenalnya lebih dalam sebagai seorang sahabat, aku merasa kata itu akan terlalu jauh. Karena itu, sekarang, aku berharap dia sedang tertidur pulas tanpa beban, yah untuk hari ini. Dan kalau bisa di hari-hari lain juga, tapi bagaimanapun kondisi hatinya, aku tidak akan terlalu tahu, lagipula, aku sendiri heran mengapa tiba-tiba aku menjadi pemerhati orang-orang seperti ini, yah, khususnya hari ini.
Ngomong-ngomong tentang sahabat, betapa aku merindukan hal itu.
Berbagi suka dan duka, berbagi tawa juga tangis. Sebagai sahabat, bukan hal lain.
Tapi rasanya, semakin banyak mengenal orang lain dan semakin dalam mengetahuinya, orang-orang yang seharusnya tidak mengecewakan kita, malah membuat kita kecewa.
Itu sebabnya, kadang aku merasa pesimis menemukan jenis orang yang bisa dianggap sebagai sahabat.
Pertanyaannya adalah, adakah sahabat yang seperti itu di dunia ini?
Hatiku menggumam kecil dari tadi, gatal sekali ingin meneriakkan bahwa itu mustahil..., tapi sebagai insan sosial, bukankah itu yang kita butuhkan selama ini?
Menemukan, mencari, dan bermimpi memiliki dua pasang mata yang lain, dua telinga yang lain, dan satu mulut yang lain, true friend.
Mudah, ya. Sulit, ya betul juga. Kontranya adalah, mana ada orang yang bisa merasa bahagia saat semua hal, semua kesulitan menekanmu pada saat yang bersamaan, bertumpuk pula? lalu, mana ada orang yang bisa tertawa--jangankan tertawa, tersenyum pun, saat kau seolah berjalan di atas batu-batu yang tajam?
Pro-nya adalah, singkat saja, lakukan saja, dan lihat hasilnya.
Tidak ada yang sebegitu spesial hari ini, tidak ada kejutan menarik hari ini, apalagi di saat aku begitu merindukan seseorang, atau mungkin orang-orang yang lain yang juga memiliki status penting di hatiku, dulu.
Tapi ada satu hal..., yang membuatku ingin bercerita, dan mengetikkan huruf-huruf pada blog ini.
Aku memiliki seorang teman, yah jika bisa dibilang seperti itu. Pada awalnya, kami tidak dekat, kami juga tidak punya keharusan untuk saling mengenal satu sama lain. Dan sampai sekarang begitu. Tapi anehnya, dalam dirinya yang phlegmatis melankolis, aku merasakan aura yang sama pada diriku, ketika aku tiba-tiba merasa jalan pikiran kami sama, atau kadang-kadang kami merasa hal yang sama.
Aku sedang membicarakan seorang teman.
Aku senang ketika melihatnya tersenyum, sekalipun ia jarang sekali tertawa lepas. Sesekali aku memperhatikannya, dan bertanya-tanya bagaimana caranya supaya dia bisa melepaskan sedikit bebannya, dan membaur dalam kebersamaan atau kebahagiaan.
Apakah itu sebuah empati? Mungkin. Aku bisa merasakannya, sekalipun aku dan dirinya tidak memiliki masalah yang serupa. Masalah kami jauh berbeda, atau mungkin ada yang sama, tapi kami beda total. Bahkan, aku tidak tahu dengan persis apa yang dia alami, tapi aku tahu itu berat.
Hanya perasaan yang dia rasakan, seolah menyerupai apa yang aku rasakan.
Rasa hangat mengalir dalam hatiku ketika aku melihatnya tertawa. Aku hanya tidak bisa melihatnya stress. Tidak, itu menyedihkan. Sekalipun aku ingin mengenalnya lebih dalam sebagai seorang sahabat, aku merasa kata itu akan terlalu jauh. Karena itu, sekarang, aku berharap dia sedang tertidur pulas tanpa beban, yah untuk hari ini. Dan kalau bisa di hari-hari lain juga, tapi bagaimanapun kondisi hatinya, aku tidak akan terlalu tahu, lagipula, aku sendiri heran mengapa tiba-tiba aku menjadi pemerhati orang-orang seperti ini, yah, khususnya hari ini.
Ngomong-ngomong tentang sahabat, betapa aku merindukan hal itu.
Berbagi suka dan duka, berbagi tawa juga tangis. Sebagai sahabat, bukan hal lain.
Tapi rasanya, semakin banyak mengenal orang lain dan semakin dalam mengetahuinya, orang-orang yang seharusnya tidak mengecewakan kita, malah membuat kita kecewa.
Itu sebabnya, kadang aku merasa pesimis menemukan jenis orang yang bisa dianggap sebagai sahabat.
Pertanyaannya adalah, adakah sahabat yang seperti itu di dunia ini?
Hatiku menggumam kecil dari tadi, gatal sekali ingin meneriakkan bahwa itu mustahil..., tapi sebagai insan sosial, bukankah itu yang kita butuhkan selama ini?
Menemukan, mencari, dan bermimpi memiliki dua pasang mata yang lain, dua telinga yang lain, dan satu mulut yang lain, true friend.
Wednesday, August 17, 2011
Abu-abu
Tidak tahu bagaimana caranya, menjalani suatu kehidupan dengan mata yang tertutup. seolah aku melihat, namun aku tidak tahu pandanganku ke arah mana. setiap hal yang terjadi membuatku merasa dipermainkan. setiap impian yang terukir pada awalnya terasa begitu polos tapi juga naif. Menjejakkan kaki ke mana hati ini ingin melangkah, tak urung membuatku bimbang pada setiap pilihan yang ku ambil. satu kata untuk mendeskripsikannya, dilema.
tahun demi tahun yang terlewati dengan sia-sia, membuatku berpikir semakin menjadi-jadi, sialnya, bagaimanapun usahaku untuk tidak memikirkannya, tetap saja tidak bisa.
menyalahkan siapapun, juga tidak bisa.
sulit rasanya untuk mencoba terbuka pada setiap makhluk yang namanya, sahabat. ketika dalam pikiranku, mereka adalah orang-orang yang berada pada sisi duka maupun suka, ternyata, sama sekali bukan. selama 4 1/2 tahun ini, kupikir aku berada pada komunitas yang hangat, tapi tak lebih dari sebuah komunitas wawancara, kau wartawan dan saya narasumber.
bahkan untuk menulis saja, aku perlu berhenti untuk menyaring. apakah sesulit ini?
beralih daripada sahabat, ketika aku memilikimu, aku merasa seperti memiliki kembaran secara emosional, yang menanggapi setiap emosi dalam raga juga jiwaku, yang marah pada belahan sisi yang membuatmu kesal dan kecewa, yang bahagia pada sisi lainnya ketika kamu, menganggap kita cukup wajar untuk merasa bahagia.
aku tidak kecewa, sekalipun aku tidak bilang aku tidak merasa ternganggu. banyak hal yang aku tahu dan sadar, bahwa suatu saat aku harus berbagi kehidupan pribadiku pada orang-orang yang eksklusif di mataku. tapi, aku masih canggung. silahkan beranggapan itu mudah bagi orang lain, tapi aku memang bukan orang lain.
beralih lagi pada hal yang tidak pernah lepas dari benang-benang pikiran ini. aku bahkan tidak sanggup untuk merasakan euforia yang pernah aku rasakan dulu, sebelum, seorang kawan lama datang dan menghempasiku dengan sejuta khayalan, well, lebih baik aku bilang, kalau itu kesalahan yang kuperbuat, nekat.
rasanya seperti sebuah film, yang mengalami pemutaran dan pengulangan lagi dan lagi. aku lelah, walau baru sekali seumur hidup hal ini aku rasakan. aku tidak tahu bagaimana caranya menghadapi hari itu, hari dimana aku masih tidak tahu apa yang akan terjadi, bertemu setiap orang asing yang mungkin akan seruangan denganku. katakanlah, bahwa aku terlalu rumit memikirkannya, tapi pikiran itu tidak juga lepas dari bayang-bayangku.
Aku tidak bisa mengulang setiap masa yang pernah kulalui dengan penyesalan, kecuali berdamai dengan masa lalu. Berdamai pun, tidak akan pernah terasa seperti membuka lembaran baru, tidak, tidak akan pernah.
Lantas sekarang, di manakah aku di tempatkan? saat klimaks dan anti klimaks dalam hidupku mengawang di langit-langit kehidupan ini, ritme dan arus yang harus aku hadapi lagi-lagi terasa terlalu kencang.
bahkan, aku tidak pernah ingin untuk menghadapi semua secara satu waktu. tapi rupanya, inipun pengecualian untukku.
tahun demi tahun yang terlewati dengan sia-sia, membuatku berpikir semakin menjadi-jadi, sialnya, bagaimanapun usahaku untuk tidak memikirkannya, tetap saja tidak bisa.
menyalahkan siapapun, juga tidak bisa.
sulit rasanya untuk mencoba terbuka pada setiap makhluk yang namanya, sahabat. ketika dalam pikiranku, mereka adalah orang-orang yang berada pada sisi duka maupun suka, ternyata, sama sekali bukan. selama 4 1/2 tahun ini, kupikir aku berada pada komunitas yang hangat, tapi tak lebih dari sebuah komunitas wawancara, kau wartawan dan saya narasumber.
bahkan untuk menulis saja, aku perlu berhenti untuk menyaring. apakah sesulit ini?
beralih daripada sahabat, ketika aku memilikimu, aku merasa seperti memiliki kembaran secara emosional, yang menanggapi setiap emosi dalam raga juga jiwaku, yang marah pada belahan sisi yang membuatmu kesal dan kecewa, yang bahagia pada sisi lainnya ketika kamu, menganggap kita cukup wajar untuk merasa bahagia.
aku tidak kecewa, sekalipun aku tidak bilang aku tidak merasa ternganggu. banyak hal yang aku tahu dan sadar, bahwa suatu saat aku harus berbagi kehidupan pribadiku pada orang-orang yang eksklusif di mataku. tapi, aku masih canggung. silahkan beranggapan itu mudah bagi orang lain, tapi aku memang bukan orang lain.
beralih lagi pada hal yang tidak pernah lepas dari benang-benang pikiran ini. aku bahkan tidak sanggup untuk merasakan euforia yang pernah aku rasakan dulu, sebelum, seorang kawan lama datang dan menghempasiku dengan sejuta khayalan, well, lebih baik aku bilang, kalau itu kesalahan yang kuperbuat, nekat.
rasanya seperti sebuah film, yang mengalami pemutaran dan pengulangan lagi dan lagi. aku lelah, walau baru sekali seumur hidup hal ini aku rasakan. aku tidak tahu bagaimana caranya menghadapi hari itu, hari dimana aku masih tidak tahu apa yang akan terjadi, bertemu setiap orang asing yang mungkin akan seruangan denganku. katakanlah, bahwa aku terlalu rumit memikirkannya, tapi pikiran itu tidak juga lepas dari bayang-bayangku.
Aku tidak bisa mengulang setiap masa yang pernah kulalui dengan penyesalan, kecuali berdamai dengan masa lalu. Berdamai pun, tidak akan pernah terasa seperti membuka lembaran baru, tidak, tidak akan pernah.
Lantas sekarang, di manakah aku di tempatkan? saat klimaks dan anti klimaks dalam hidupku mengawang di langit-langit kehidupan ini, ritme dan arus yang harus aku hadapi lagi-lagi terasa terlalu kencang.
bahkan, aku tidak pernah ingin untuk menghadapi semua secara satu waktu. tapi rupanya, inipun pengecualian untukku.
Friday, August 5, 2011
140711
Ada sesuatu yang berubah...
Ketika menatapmu dengan cara yang berbeda,
Ketika menyentuhmu dengan rasa yang sungguh normal.
Terlukis setiap perasaan dalam bentuk senyuman,
Dan aku, sungguh bahagia.
Ada sesuatu yang menyelinap masuk...
Ketika aku tergelak dengan caramu bercanda,
Ketika semua terlalu nyata untuk dijabarkan,
Ada air mata dan tawa yang bersatu pada perasaan yang begitu menyatu,
Terdiam di kala duka suka yang berbaur.
Segalanya terjadi dengan amat mudah dan ringan...
Perlahan kamu membuatku membuka hati pada setiap jejakmu,
Perlahan kamu menelusuri detak kebiasaanku,
Dan tiba-tiba, semuanya menjadi tidak terpisah.
Aku mengira, sulit buatku merasakan ini kembali,
Aku mengira, rumit buatku melepaskan setiap detik masa lalu,
Tapi semua penyesalan itu entah mengapa lenyap,
Semua kegalauanku hilang dan itu jujur, benar.
Kamu menyatukan telapak tangan yang tadinya enggan menyatu,
Kamu juga menjajari setiap langkah dan begitu sabar,
Kamu pula yang mengubah risau yang berlebihan...
Menjadi sesuatu yang harus dihadapi.
Dan setiap warna yang kamu pilih, membuatku mengerti,
Juga setiap pikiran yang terutara, membuatku paham,
Sejenak, aku ingin waktu berhenti...
Menjadi naif sejenak dalam sensasi hati,
Mendeskripsikanmu dengan tulisan sesuka jiwa,
Namun ini nyata...
Segalanya akan berputar terus-menerus,
Membiarkan waktu mempertemukan dua kemungkinan...
Dan inilah semuanya, awal yang baru...
Ketika menatapmu dengan cara yang berbeda,
Ketika menyentuhmu dengan rasa yang sungguh normal.
Terlukis setiap perasaan dalam bentuk senyuman,
Dan aku, sungguh bahagia.
Ada sesuatu yang menyelinap masuk...
Ketika aku tergelak dengan caramu bercanda,
Ketika semua terlalu nyata untuk dijabarkan,
Ada air mata dan tawa yang bersatu pada perasaan yang begitu menyatu,
Terdiam di kala duka suka yang berbaur.
Segalanya terjadi dengan amat mudah dan ringan...
Perlahan kamu membuatku membuka hati pada setiap jejakmu,
Perlahan kamu menelusuri detak kebiasaanku,
Dan tiba-tiba, semuanya menjadi tidak terpisah.
Aku mengira, sulit buatku merasakan ini kembali,
Aku mengira, rumit buatku melepaskan setiap detik masa lalu,
Tapi semua penyesalan itu entah mengapa lenyap,
Semua kegalauanku hilang dan itu jujur, benar.
Kamu menyatukan telapak tangan yang tadinya enggan menyatu,
Kamu juga menjajari setiap langkah dan begitu sabar,
Kamu pula yang mengubah risau yang berlebihan...
Menjadi sesuatu yang harus dihadapi.
Dan setiap warna yang kamu pilih, membuatku mengerti,
Juga setiap pikiran yang terutara, membuatku paham,
Sejenak, aku ingin waktu berhenti...
Menjadi naif sejenak dalam sensasi hati,
Mendeskripsikanmu dengan tulisan sesuka jiwa,
Namun ini nyata...
Segalanya akan berputar terus-menerus,
Membiarkan waktu mempertemukan dua kemungkinan...
Dan inilah semuanya, awal yang baru...
Subscribe to:
Posts (Atom)