Another silly day, with thinking of you, the unfinished memories.
Hello Winter...,
Seems like i can't forget you easily. My heart trying to find the way out, not to remember about you. Dear, u are the one who said to me, you are the forgotten man. but why, even i have tried it in many ways, your face, always appear in everywhere.
Yesterday i saw you. Look, this mind is going crazy.
His face..., seems like yours.
You did a best revenge for me.
Still you remember me?
Anyway, i see your picture today. You smile a lot. That's great. And so do I.
Thanks for the memories, thanks for the pain, also thanks for the happiness.
You gave me the sweetest memories and it will never be disappeared. How i wish i could forget you.
-2008-
Wednesday, November 28, 2012
Tuesday, July 31, 2012
Questions
Gasp.
Melihat ke kiri, seseorang bersembunyi dalam bilik-bilik masa lalu, berkutat dengan kenangan masa lalu, tersenyum dengan kenangan masa lalu, menangis, berpikir, dengan hal-hal yang telah berlalu lama.
Melihat ke kanan, seseorang bernostalgia dengan seseorang di masa lalu, mencintainya, mengaguminya, merindukannya, namun hanya sebatas itu, dan gelisah pada ujungnya.
Melihat pada diri sendiri. Lalu berpikir. Tidakkah semua masa lalu itu sangat menghantui? Seperti hantu tak terlihat yang menempelkan wajah dan posisinya di tiap sudut ruangan dalam hati kita. Melihat kemana pun, bertemu dengan mereka. Dan pada akhirnya, takutkah kamu akan semua kejadian hari ini, menjadi bagian-bagian dalam masa lalu yang pahit? manis?
Melihat ke kiri, seseorang bersembunyi dalam bilik-bilik masa lalu, berkutat dengan kenangan masa lalu, tersenyum dengan kenangan masa lalu, menangis, berpikir, dengan hal-hal yang telah berlalu lama.
Melihat ke kanan, seseorang bernostalgia dengan seseorang di masa lalu, mencintainya, mengaguminya, merindukannya, namun hanya sebatas itu, dan gelisah pada ujungnya.
Melihat pada diri sendiri. Lalu berpikir. Tidakkah semua masa lalu itu sangat menghantui? Seperti hantu tak terlihat yang menempelkan wajah dan posisinya di tiap sudut ruangan dalam hati kita. Melihat kemana pun, bertemu dengan mereka. Dan pada akhirnya, takutkah kamu akan semua kejadian hari ini, menjadi bagian-bagian dalam masa lalu yang pahit? manis?
Saturday, June 30, 2012
Lil bit Crash
Tiara Invanska melebarkan pandangannya ke segala penjuru. Suasana cafe yang nyaman, suara musik yang menenangkan telinga. Dan..., teman baru yang banyak. Mengelilingi mejanya. Tampaknya yang paling ramai dari segala pengunjung cafe.
Namun ada satu hal yang mengganjal hati Tiara. Yang berlanjut pada kenyataan bahwa--dirinya terasing. Tubuhnya memang berada di situ. Matanya memang mengamati setiap gerakan bibir yang bergerak cepat, tersenyum dengan cepat, raut wajah yang berekspresi dengan cepat, berganti dari takjub, senang, dan berganti-gantian. Tapi hatinya, tidak. Hatinya berkelana. Tidak, tidak. Hatinya mematung.
Namun ada satu hal yang mengganjal hati Tiara. Yang berlanjut pada kenyataan bahwa--dirinya terasing. Tubuhnya memang berada di situ. Matanya memang mengamati setiap gerakan bibir yang bergerak cepat, tersenyum dengan cepat, raut wajah yang berekspresi dengan cepat, berganti dari takjub, senang, dan berganti-gantian. Tapi hatinya, tidak. Hatinya berkelana. Tidak, tidak. Hatinya mematung.
Thursday, April 26, 2012
Untold
Banyak.
Banyak hal yang ingin kutulis di sini. Gambaran-gambaran tentang sebuah perasaan, yang tersangkut oleh karena waktu. Ya, lagi-lagi waktu. Ya, lagi-lagi berbicara tentang masa, lagi-lagi menulis dan merekam ingatanku tentang ini.
Dua minggu yang lalu, perasaan itu begitu kuat. Seminggu yang lalu, telah ada yang mencegahnya menjadi lebih kuat lagi. Tidakkah kamu berpikir, mengapa semua ini begitu tiba-tiba? Dan lebih parah lagi, ketika kita tidak bisa melakukan apa-apa. Nihil. Dan kamu menunggu. Dan kamu bertanya-tanya. Dan kamu berharap. Sementara kamu tidak tahu, apa yang sedang kamu harapkan, apa yang sedang kamu tunggu, dan jawaban apa yang kamu inginkan.
Benar. Benar seperti itulah rasanya. Serumit itu. Lebih rumit daripada sebuah benang kusut. Dan aku hampir gila menemukan hal itu terjadi pada diriku.
Ceritanya dimulai dari...., Enam tahun yang lalu.
Enam tahun saja, cukup.
Kamu tidak perlu bertanya banyak, ketika kamu memiliki kenangan tersendiri enam tahun yang lalu. Selama apapun itu, kamu tidak akan pernah lupa, ketika waktu sekarang, mempertemukanmu dengan kejadian enam tahun yang lalu. Bagaimana rasanya? Semua rasa terpatri dengan jelas dan tertancap tepat sasaran. Seperti..., kamu diperhadapkan pada dua pilihan yang sulit.
Itulah kenyataannya, dan kenangan itu menjadi nyata, menjadi lebih dari nyata bahkan melewati sebuah artian kenangan itu tersendiri. Sangat, sangat nyata.
Aku berpikir, kukira hal itu hanya akan berdampak sekilas. Namun ternyata lebih dari pada sekilas. Dan aku menemukan diriku berdiri di tengah-tengah sebuah ruangan, lalu stuck. Kamu bingung, pada sesuatu yang kedatangannya tidak pernah diminta. Pada sesuatu yang kedatangannya juga tidak pernah ditolak.
Nah, dapatkah kamu mengerti?
Aku ingin mendesah panjang, ingin mengerang kuat-kuat, ingin pula menutup diri dengan selimut tebal. Tapi, waktu berputar, dan aku semakin bingung.
Sesuatu yang sudah kamu miliki, tak mungkin kamu sia-siakan. Itu kalimat yang paling benar, yang berdengung dalam telingaku. Ya benar, tapi hati kecilku, menyanggah, tidak terlalu kuat, tapi jangan-jangan akan menjadi semakin lebih kuat.
Sesuatu yang tidak kamu miliki, tak mungkin kamu lupakan. Itu kalimat kedua yang menyanggah kalimat pertama. Hati kecilku ikut mengangguk, tapi mengangguk dengan lemah.
Pikiranku berteriak, hentikan argumen ini. Tapi aku, aku tidak bisa.
Banyak hal yang ingin kutulis di sini. Gambaran-gambaran tentang sebuah perasaan, yang tersangkut oleh karena waktu. Ya, lagi-lagi waktu. Ya, lagi-lagi berbicara tentang masa, lagi-lagi menulis dan merekam ingatanku tentang ini.
Dua minggu yang lalu, perasaan itu begitu kuat. Seminggu yang lalu, telah ada yang mencegahnya menjadi lebih kuat lagi. Tidakkah kamu berpikir, mengapa semua ini begitu tiba-tiba? Dan lebih parah lagi, ketika kita tidak bisa melakukan apa-apa. Nihil. Dan kamu menunggu. Dan kamu bertanya-tanya. Dan kamu berharap. Sementara kamu tidak tahu, apa yang sedang kamu harapkan, apa yang sedang kamu tunggu, dan jawaban apa yang kamu inginkan.
Benar. Benar seperti itulah rasanya. Serumit itu. Lebih rumit daripada sebuah benang kusut. Dan aku hampir gila menemukan hal itu terjadi pada diriku.
Ceritanya dimulai dari...., Enam tahun yang lalu.
Enam tahun saja, cukup.
Kamu tidak perlu bertanya banyak, ketika kamu memiliki kenangan tersendiri enam tahun yang lalu. Selama apapun itu, kamu tidak akan pernah lupa, ketika waktu sekarang, mempertemukanmu dengan kejadian enam tahun yang lalu. Bagaimana rasanya? Semua rasa terpatri dengan jelas dan tertancap tepat sasaran. Seperti..., kamu diperhadapkan pada dua pilihan yang sulit.
Itulah kenyataannya, dan kenangan itu menjadi nyata, menjadi lebih dari nyata bahkan melewati sebuah artian kenangan itu tersendiri. Sangat, sangat nyata.
Aku berpikir, kukira hal itu hanya akan berdampak sekilas. Namun ternyata lebih dari pada sekilas. Dan aku menemukan diriku berdiri di tengah-tengah sebuah ruangan, lalu stuck. Kamu bingung, pada sesuatu yang kedatangannya tidak pernah diminta. Pada sesuatu yang kedatangannya juga tidak pernah ditolak.
Nah, dapatkah kamu mengerti?
Aku ingin mendesah panjang, ingin mengerang kuat-kuat, ingin pula menutup diri dengan selimut tebal. Tapi, waktu berputar, dan aku semakin bingung.
Sesuatu yang sudah kamu miliki, tak mungkin kamu sia-siakan. Itu kalimat yang paling benar, yang berdengung dalam telingaku. Ya benar, tapi hati kecilku, menyanggah, tidak terlalu kuat, tapi jangan-jangan akan menjadi semakin lebih kuat.
Sesuatu yang tidak kamu miliki, tak mungkin kamu lupakan. Itu kalimat kedua yang menyanggah kalimat pertama. Hati kecilku ikut mengangguk, tapi mengangguk dengan lemah.
Pikiranku berteriak, hentikan argumen ini. Tapi aku, aku tidak bisa.
Monday, March 19, 2012
Complicated
Sepanjang waktu, aku berpikir tentang ribuan pertanyaan, menghela untuk napas yang terasa berat, lalu menutup mata untuk mengusir banyak bayangan yang melintas. Tidak, jangan di sini...
Aku tidak ingin merasa sedih untuk sesuatu yang tidak jelas asalnya. Sekalipun semua ini jelas, aku tetap tidak ingin merasa sesedih ini. Bagaimana tidak? Di hadapanku muncul jumlah-jumlah orang yang kusayang, namun entah kenapa, dia berbayang kepergian. Dan aku tidak suka membayangkannya.
Takutkah aku pada kenyataan? atau pada masa depan? Atau pada waktu?
Mempercayaimu adalah sebuah hal di luar waktu. Adalah sesuatu hal yang tidak bisa kujelaskan dari mana keyakinan itu datang. Tidak banyak alasanku untuk merasa yakin pada diriku sendiri. Mungkin, inilah yang membayangi segala dasar ketakutan itu.
Seseorang bercerita padaku tentang dua sisi cara mencintai yang berbeda. Seseorang yang mencintai dengan sepenuh hati, dan seseorang lain yang mencintai dengan akal. Bagiku, mereka adalah keping emas yang tidak bisa dipisahkan. Dan aku tidak bisa memilih salah satu dari dua sisi itu.
Entah mengapa, kehadiranmu di sini membuatku terdiam. Terperangkap dalam sejumlah mimik yang membuatku bingung sendiri. Haruskah aku tertawa? Mengapa aku bersedih?
Sejujurnya, aku hanya ingin bersikap biasa-biasa saja. Tapi sekarang aku malah terlihat berlomba dengan waktu. Aku mampu bersikap baik-baik saja di hadapan orang lain. Tapi ini juga membuatku tersiksa. Menceritakan segala hal padamu, aku tahu itu mungkin melegakan, tapi aku tidak tahu apa yang akan muncul di pikiranmu. Dan pada akhirnya..., semua ini kembali tersimpan dalam hatiku.
Aku tidak ingin merasa sedih untuk sesuatu yang tidak jelas asalnya. Sekalipun semua ini jelas, aku tetap tidak ingin merasa sesedih ini. Bagaimana tidak? Di hadapanku muncul jumlah-jumlah orang yang kusayang, namun entah kenapa, dia berbayang kepergian. Dan aku tidak suka membayangkannya.
Takutkah aku pada kenyataan? atau pada masa depan? Atau pada waktu?
Mempercayaimu adalah sebuah hal di luar waktu. Adalah sesuatu hal yang tidak bisa kujelaskan dari mana keyakinan itu datang. Tidak banyak alasanku untuk merasa yakin pada diriku sendiri. Mungkin, inilah yang membayangi segala dasar ketakutan itu.
Seseorang bercerita padaku tentang dua sisi cara mencintai yang berbeda. Seseorang yang mencintai dengan sepenuh hati, dan seseorang lain yang mencintai dengan akal. Bagiku, mereka adalah keping emas yang tidak bisa dipisahkan. Dan aku tidak bisa memilih salah satu dari dua sisi itu.
Entah mengapa, kehadiranmu di sini membuatku terdiam. Terperangkap dalam sejumlah mimik yang membuatku bingung sendiri. Haruskah aku tertawa? Mengapa aku bersedih?
Sejujurnya, aku hanya ingin bersikap biasa-biasa saja. Tapi sekarang aku malah terlihat berlomba dengan waktu. Aku mampu bersikap baik-baik saja di hadapan orang lain. Tapi ini juga membuatku tersiksa. Menceritakan segala hal padamu, aku tahu itu mungkin melegakan, tapi aku tidak tahu apa yang akan muncul di pikiranmu. Dan pada akhirnya..., semua ini kembali tersimpan dalam hatiku.
Thursday, January 12, 2012
Suddenly....
10.50 p.m.
Aku mengira, malam ini akan menjadi malam yang... yang indah.
Nyatanya?
Di tengah jalan, seseorang menelepon, dan...
Dan aku tahu apa yang terjadi.
Dia mengendarai mobil, mengantarku pulang, dan. tada...
Kau tahu apa selanjutnya. Selanjutnya aku terduduk diam sejenak, masih dengan pakaian kerjaku. Memutar ulang pikiranku, dan entah bagaimana ceritanya, aku bisa membuka situs ini dan mulai mengetik.
Dan berhenti pada saat itu juga...
Aku mengira, malam ini akan menjadi malam yang... yang indah.
Nyatanya?
Di tengah jalan, seseorang menelepon, dan...
Dan aku tahu apa yang terjadi.
Dia mengendarai mobil, mengantarku pulang, dan. tada...
Kau tahu apa selanjutnya. Selanjutnya aku terduduk diam sejenak, masih dengan pakaian kerjaku. Memutar ulang pikiranku, dan entah bagaimana ceritanya, aku bisa membuka situs ini dan mulai mengetik.
Dan berhenti pada saat itu juga...
Subscribe to:
Posts (Atom)