Banyak.
Banyak hal yang ingin kutulis di sini. Gambaran-gambaran tentang sebuah perasaan, yang tersangkut oleh karena waktu. Ya, lagi-lagi waktu. Ya, lagi-lagi berbicara tentang masa, lagi-lagi menulis dan merekam ingatanku tentang ini.
Dua minggu yang lalu, perasaan itu begitu kuat. Seminggu yang lalu, telah ada yang mencegahnya menjadi lebih kuat lagi. Tidakkah kamu berpikir, mengapa semua ini begitu tiba-tiba? Dan lebih parah lagi, ketika kita tidak bisa melakukan apa-apa. Nihil. Dan kamu menunggu. Dan kamu bertanya-tanya. Dan kamu berharap. Sementara kamu tidak tahu, apa yang sedang kamu harapkan, apa yang sedang kamu tunggu, dan jawaban apa yang kamu inginkan.
Benar. Benar seperti itulah rasanya. Serumit itu. Lebih rumit daripada sebuah benang kusut. Dan aku hampir gila menemukan hal itu terjadi pada diriku.
Ceritanya dimulai dari...., Enam tahun yang lalu.
Enam tahun saja, cukup.
Kamu tidak perlu bertanya banyak, ketika kamu memiliki kenangan tersendiri enam tahun yang lalu. Selama apapun itu, kamu tidak akan pernah lupa, ketika waktu sekarang, mempertemukanmu dengan kejadian enam tahun yang lalu. Bagaimana rasanya? Semua rasa terpatri dengan jelas dan tertancap tepat sasaran. Seperti..., kamu diperhadapkan pada dua pilihan yang sulit.
Itulah kenyataannya, dan kenangan itu menjadi nyata, menjadi lebih dari nyata bahkan melewati sebuah artian kenangan itu tersendiri. Sangat, sangat nyata.
Aku berpikir, kukira hal itu hanya akan berdampak sekilas. Namun ternyata lebih dari pada sekilas. Dan aku menemukan diriku berdiri di tengah-tengah sebuah ruangan, lalu stuck. Kamu bingung, pada sesuatu yang kedatangannya tidak pernah diminta. Pada sesuatu yang kedatangannya juga tidak pernah ditolak.
Nah, dapatkah kamu mengerti?
Aku ingin mendesah panjang, ingin mengerang kuat-kuat, ingin pula menutup diri dengan selimut tebal. Tapi, waktu berputar, dan aku semakin bingung.
Sesuatu yang sudah kamu miliki, tak mungkin kamu sia-siakan. Itu kalimat yang paling benar, yang berdengung dalam telingaku. Ya benar, tapi hati kecilku, menyanggah, tidak terlalu kuat, tapi jangan-jangan akan menjadi semakin lebih kuat.
Sesuatu yang tidak kamu miliki, tak mungkin kamu lupakan. Itu kalimat kedua yang menyanggah kalimat pertama. Hati kecilku ikut mengangguk, tapi mengangguk dengan lemah.
Pikiranku berteriak, hentikan argumen ini. Tapi aku, aku tidak bisa.