Seandainya semua impian bisa menjadi nyata…. Entah mengapa sulit rasanya menerima kenyataan yang sama sekali bukan dirimu.
Begitu kau terbangun dan menjejakkan kaki di tanah, seolah-olah kau berada pada tubuh orang lain. Seolah-olah kau terhilang dari jiwamu dan merasuki raga yang sama sekali tak kau kenal.
Kau berusaha tersenyum di tengah keterasinganmu. Berusaha melakukan sesuatu dan menjadi dirinya. Tapi tak urung juga kau berpikir, sebenarnya apa yang sedang kulakukan? Ya…, tidak enak.
Ketika kau bertanya pada orang lain, dan kata termudah untuk menghiburmu adalah, “come on…, u can’t do anything, just accept it.” Tidak perlu melakukan apa-apa, apa yang terjadi, hadapi saja. Well, sungguh mudah berbicara, tapi tak menghibur.
Lalu pikiranmu beralih menjadi, Bagaimana jika aku melakukan sesuatu? Ketika kau mulai bangkit dan berharap, ternyata impianmu seringan debu, dan kau tertiup.
Lantas apakah pasrah dan berjalan saja adalah yang terbaik?
Monday, December 27, 2010
Wednesday, December 22, 2010
No Change
Setiap detik saatku teringat,
Entah memilih tersenyum atau bersedih,
Keduanya terasa, saat kau begitu berbeda.
Ketika bertanya pada perasaanku,
Dengan takut aku menjawab, “ya”,
Pada anggukan cinta yang tiada menentu…
Dengan takut pula aku menggeleng
Pada penegasan rasa yang juga tak tentu.
Kabur.
Sunyi.
Diam.
Ketika mataku melirik pada ponsel di atas meja,
Tiba-tiba nama singkat itu muncul,
Layar ponselku berkedip, sama dengan mataku yang berkedip terkejut…,
Bercampur dengan rasa hangat yang merayapi raga…
Tapi lalu setiap kata dan setiap kiriman semakin berbeda,
Dengan nada dan kosakata yang berbeda pula…
Nyaris air mataku jatuh,
“Seperti ini lagi,” desahku dalam hati.
Tak perlu berlama-lama merasa hangat,
Karena pada akhirnya dingin pun merambati tulang-tulangku.
Astaga, selalukah berakhir seperti ini?
Entah memilih tersenyum atau bersedih,
Keduanya terasa, saat kau begitu berbeda.
Ketika bertanya pada perasaanku,
Dengan takut aku menjawab, “ya”,
Pada anggukan cinta yang tiada menentu…
Dengan takut pula aku menggeleng
Pada penegasan rasa yang juga tak tentu.
Kabur.
Sunyi.
Diam.
Ketika mataku melirik pada ponsel di atas meja,
Tiba-tiba nama singkat itu muncul,
Layar ponselku berkedip, sama dengan mataku yang berkedip terkejut…,
Bercampur dengan rasa hangat yang merayapi raga…
Tapi lalu setiap kata dan setiap kiriman semakin berbeda,
Dengan nada dan kosakata yang berbeda pula…
Nyaris air mataku jatuh,
“Seperti ini lagi,” desahku dalam hati.
Tak perlu berlama-lama merasa hangat,
Karena pada akhirnya dingin pun merambati tulang-tulangku.
Astaga, selalukah berakhir seperti ini?
Subscribe to:
Posts (Atom)