Inginku pindah tempat...
Inginku menjauh dan pergi...
Lelah merasa demikian..
Lelah berfikir dan lelah gelisah..
Lemas dan terhuyung...
Di samping itu..., aku hanya ingin bilang, "selamat jalan, selamat menikmati lingkungan yang baru besok..."
Saturday, July 31, 2010
Friday, July 30, 2010
Maybe I'm Brainless
Well, aku tak mengerti apa maumu. Aku pusing menjawab semuanya. Kalau ada recycle been, wah girang setengah mati, deh! Atau kalau aku punya pensieve, nggak kalah girang.
Aku lelah! Aku lelah kau buatku gemetar raga dan jiwa, kau tahu tidak?
Mengapa tidak ada lagi kebahagiaan di antara kita?
Aku bertanya-tanya, jika digambarkan, dengan simbol tanda tanya font 72!
Aku bertanya seluruhnya! Kau buatku mati rasa, kau muncul tiba-tiba, kau membuat lingkaran mataku menghitam dan sembab. Tahu tidak?!
Kau minta maaf dan khawatir, kau begitu dan HANYA begitu! Apa aku sungguh tidak layak bahagia saat berjalan denganmu, hah? Kadang-kadang aku ingin LARI! aku ingin lari sejauh mungkin, aku ingin diam sediam mungkin, aku ingin berpikir dengan akal sehatku, karena selama ini mungkin aku berpikir tapi akal sehatku nggak ikutan rapat pikiran.
Aku resah dan gelisah. Setiap malam kau membuatku seperti ini, siapa yang tidak lelah? siapa yang tidak sakit?! ke mana dirimu saat aku membutuhkan seseorang? Haruskah kucari orang lain selain dirimu yg bisa membuatku bahagia, cinta tanpa ego, harga diri, terjepit keadaan, dsb. Kalau boleh kuungkapkan, jika keadaan menjepitmu, seharusnya kau sendiri bisa mengambil jalan lain untuk menghubungiku, itulah pengorbanan.
Saatku sakit kau tidak ada. Saatku butuh seseorang kau tidak muncul. Saatku menangis kau tidak menghiburku. Saatku ingin bercerita dan kubahagia, kau juga tidak ada bersamaku. Saatku tidak bisa tidur, mungkin kau tertidur lelap. Saatku kacau, kau menghilang! kau menghilang! menghilang! Sadarkah bahwa kau sungguh menyakitiku? Ku tanya kau di mana, lama-lama aku bertanya siapa dirimu.
Aku lelah! Aku lelah kau buatku gemetar raga dan jiwa, kau tahu tidak?
Mengapa tidak ada lagi kebahagiaan di antara kita?
Aku bertanya-tanya, jika digambarkan, dengan simbol tanda tanya font 72!
Aku bertanya seluruhnya! Kau buatku mati rasa, kau muncul tiba-tiba, kau membuat lingkaran mataku menghitam dan sembab. Tahu tidak?!
Kau minta maaf dan khawatir, kau begitu dan HANYA begitu! Apa aku sungguh tidak layak bahagia saat berjalan denganmu, hah? Kadang-kadang aku ingin LARI! aku ingin lari sejauh mungkin, aku ingin diam sediam mungkin, aku ingin berpikir dengan akal sehatku, karena selama ini mungkin aku berpikir tapi akal sehatku nggak ikutan rapat pikiran.
Aku resah dan gelisah. Setiap malam kau membuatku seperti ini, siapa yang tidak lelah? siapa yang tidak sakit?! ke mana dirimu saat aku membutuhkan seseorang? Haruskah kucari orang lain selain dirimu yg bisa membuatku bahagia, cinta tanpa ego, harga diri, terjepit keadaan, dsb. Kalau boleh kuungkapkan, jika keadaan menjepitmu, seharusnya kau sendiri bisa mengambil jalan lain untuk menghubungiku, itulah pengorbanan.
Saatku sakit kau tidak ada. Saatku butuh seseorang kau tidak muncul. Saatku menangis kau tidak menghiburku. Saatku ingin bercerita dan kubahagia, kau juga tidak ada bersamaku. Saatku tidak bisa tidur, mungkin kau tertidur lelap. Saatku kacau, kau menghilang! kau menghilang! menghilang! Sadarkah bahwa kau sungguh menyakitiku? Ku tanya kau di mana, lama-lama aku bertanya siapa dirimu.
Tuesday, July 27, 2010
BItter Decision, Sweet Memory
Ketika keputusan itu terbayang di benakku, aku gelisah. Entah mengapa seluruh jiwa seolah pahit dibuatnya. Mungkin benar aku terjebak, terjebak dalam situasi sulit yang membuatku lebih baik mengambil keputusan daripada semua ini terus berlanjut tanpa arah.
Aku diam. Hatiku tiba-tiba peka. Ragaku mulai mati rasa. Otakku nyaris terbelit. Langkahku terhuyung. Betapa aku pernah merindukan suara itu, betapa hatiku nyaris teriris melihat senyumnya yang datang di khayalku. Betapa..., kulitku terasa sakit ketika cinta mencambukku di tempat yang sama.
Setipis rasa kenikmatan antara dicintai dan disakiti, seperti itulah bayangmu di masa lalu dan sekarang. Antara bias warnamu kupilih merah muda, menjelma jadi abu-abu. Lalu kadang merah dan membakar... Sungguh kalau boleh jujur, aku ragu antara nyata atau tidak dirimu.
Ketika aku beranjak untuk percaya, dan jarak pun turun tangan serta menantangku tanpa janji, entah dirimu atau mungkin bukan lagi dirimu..., aku tetap ragu.. Hingga kini tidak ada satu manusia pun yang bisa membuatku tenang dalam kepercayaan. Aku tak mudah percaya. Dan sialnya kau tak mengingat hal itu, atau tak mengerti, atau kau pikir itu hanya hal kecil yang bisa diatasi. Salah besar.
Dan kau melakukannya....
Aku diam. Hatiku tiba-tiba peka. Ragaku mulai mati rasa. Otakku nyaris terbelit. Langkahku terhuyung. Betapa aku pernah merindukan suara itu, betapa hatiku nyaris teriris melihat senyumnya yang datang di khayalku. Betapa..., kulitku terasa sakit ketika cinta mencambukku di tempat yang sama.
Setipis rasa kenikmatan antara dicintai dan disakiti, seperti itulah bayangmu di masa lalu dan sekarang. Antara bias warnamu kupilih merah muda, menjelma jadi abu-abu. Lalu kadang merah dan membakar... Sungguh kalau boleh jujur, aku ragu antara nyata atau tidak dirimu.
Ketika aku beranjak untuk percaya, dan jarak pun turun tangan serta menantangku tanpa janji, entah dirimu atau mungkin bukan lagi dirimu..., aku tetap ragu.. Hingga kini tidak ada satu manusia pun yang bisa membuatku tenang dalam kepercayaan. Aku tak mudah percaya. Dan sialnya kau tak mengingat hal itu, atau tak mengerti, atau kau pikir itu hanya hal kecil yang bisa diatasi. Salah besar.
Dan kau melakukannya....
Saturday, July 24, 2010
Naive
Aku...
belum pernah merasakan ini. Aku belum tahu sensasi seperti ini. Ini aneh dan gila. Itu saja yang kutahu. Aku bertanya-tanya mengapa pikiranku benar-benar buntu dan tak bekerja? Aku heran. Mengapa aku menjawab tanpa berpikir? Aku lebih heran lagi. Mengapa..., mengapa tiba-tiba aku lancar menjawab tapi hatiku mati dan tak ikut ambil kendali? Ada apa ini?
Aku bertanya di mana... tidak ada jawaban.
Aku bertanya sedang apa... tidak ada jawaban.
Aku bertanya mengapa... tidak ada jawaban juga.
Jelas, aku bertanya dalam hati.
Di sini ada banyak sekali orang-orang. Tidak takutkah kamu? Tidak khawatirkah kamu jika ada yang lebih menyayangiku? jika ada yang lebih memperhatikanku? Tidakkah kamu berpikir apa pun? Tertawakah kamu di sana? Nyaman? Lupa dan sebagainya? Apa kamu tidak takut? Lama-lama aku yang takut aku lupa...
Tidakkah kamu rela melepas setiap egomu?
Jangan terlalu pasrah... Jangan terlalu bergantung pada keadaanmu... Karena sekali pun cinta tidak diukur dari pengorbanan dan usaha, penilaian tetap orang lain yang menilai, termasuk aku.
Aku tahu jika kubicarakan hal ini, argumen darimu mudah kuterima, dan aku mengerti. Tapi semua itu seperti roda yang berputar tapi tak ada ujung.
belum pernah merasakan ini. Aku belum tahu sensasi seperti ini. Ini aneh dan gila. Itu saja yang kutahu. Aku bertanya-tanya mengapa pikiranku benar-benar buntu dan tak bekerja? Aku heran. Mengapa aku menjawab tanpa berpikir? Aku lebih heran lagi. Mengapa..., mengapa tiba-tiba aku lancar menjawab tapi hatiku mati dan tak ikut ambil kendali? Ada apa ini?
Aku bertanya di mana... tidak ada jawaban.
Aku bertanya sedang apa... tidak ada jawaban.
Aku bertanya mengapa... tidak ada jawaban juga.
Jelas, aku bertanya dalam hati.
Di sini ada banyak sekali orang-orang. Tidak takutkah kamu? Tidak khawatirkah kamu jika ada yang lebih menyayangiku? jika ada yang lebih memperhatikanku? Tidakkah kamu berpikir apa pun? Tertawakah kamu di sana? Nyaman? Lupa dan sebagainya? Apa kamu tidak takut? Lama-lama aku yang takut aku lupa...
Tidakkah kamu rela melepas setiap egomu?
Jangan terlalu pasrah... Jangan terlalu bergantung pada keadaanmu... Karena sekali pun cinta tidak diukur dari pengorbanan dan usaha, penilaian tetap orang lain yang menilai, termasuk aku.
Aku tahu jika kubicarakan hal ini, argumen darimu mudah kuterima, dan aku mengerti. Tapi semua itu seperti roda yang berputar tapi tak ada ujung.
Every Feeling
Terbang segala rasa manis, pahit, kangen, rindu, kesal, marah... Apa ini? Mati rasakah? Aku tertawa dibuatnya. Menembus segala pikiran, mencampakkan segala keluh kesah dan tiba-tiba aku termangu. Ragaku menyulap setiap tatapan mata, menimbulkan tawa canda, menggerakkan anggukan kepala, membiarkan mulut membulat dan berkata, "oh.." dengan reaksi yang sudah pasti positif.
Tapi siapa yang tahu dalam hati menjerit, menangis, meronta, terluka, dan terbakar? No one else.
Lantas, untuk apa merasa begitu? Kepada siapa rasa itu akhirnya terjadi? Juga..., mengapa mau-mau saja? jawabannya sederhana. Bukan mau, tapi terlanjur.
Aku pun menyadari, tak cukup rasanya penghargaan itu ada dalam hatinya. Sungguh, aku benar-benar mati rasa dibuatnya. Tidak tahu salahku yg mana lagi, tidak tahu apakah aku masih punya hak untuk berkata benar, well, tidak tahu.
Pantaskah aku marah? Pantaskah aku merasa bersalah?
Dilema menyerang tanpa ruang, aku hendak menghentikannya. Aku tahu ini berhenti, tapi akhirnya kematian hatiku menjulang tinggi. Hingga sekarang, tertawa pun gampang saja. Mengibaskan tangan pun gampang, apalagi berkata, "terserahlah" ...
Sebegitu desperate-kah? Bibirku menyunggingkan senyum lagi. Menghela nafas dan tunggu saja. Menunggu keputusan... Menunggu gudang kesabaranku.
Banyak yang berkata, sanggupkah aku menghadapinya? Aku tersenyum, pikiranku berkata tidak tapi hatiku berkata lain. Sampai kapan, sayang? ini pertanyaan hatiku. Jawabannya pun, aku hanya bisa bertahan sampai.... (semoga aku cukup bertahan tidak perlu memakai kata sampai).
Tapi siapa yang tahu dalam hati menjerit, menangis, meronta, terluka, dan terbakar? No one else.
Lantas, untuk apa merasa begitu? Kepada siapa rasa itu akhirnya terjadi? Juga..., mengapa mau-mau saja? jawabannya sederhana. Bukan mau, tapi terlanjur.
Aku pun menyadari, tak cukup rasanya penghargaan itu ada dalam hatinya. Sungguh, aku benar-benar mati rasa dibuatnya. Tidak tahu salahku yg mana lagi, tidak tahu apakah aku masih punya hak untuk berkata benar, well, tidak tahu.
Pantaskah aku marah? Pantaskah aku merasa bersalah?
Dilema menyerang tanpa ruang, aku hendak menghentikannya. Aku tahu ini berhenti, tapi akhirnya kematian hatiku menjulang tinggi. Hingga sekarang, tertawa pun gampang saja. Mengibaskan tangan pun gampang, apalagi berkata, "terserahlah" ...
Sebegitu desperate-kah? Bibirku menyunggingkan senyum lagi. Menghela nafas dan tunggu saja. Menunggu keputusan... Menunggu gudang kesabaranku.
Banyak yang berkata, sanggupkah aku menghadapinya? Aku tersenyum, pikiranku berkata tidak tapi hatiku berkata lain. Sampai kapan, sayang? ini pertanyaan hatiku. Jawabannya pun, aku hanya bisa bertahan sampai.... (semoga aku cukup bertahan tidak perlu memakai kata sampai).
Wednesday, July 21, 2010
Distance and Insecure But Will be Fine
Lama sekali aku tidak lagi menulis. Semenjak penuh dengan kejadian dan berbagai kesibukan... aku ingat seseorang tidak suka kalau aku menulis, mulai saat itu entah kemana kata-kata yang seakan menyatu dalam darahku..
Kini aku kembali lagi... setelah berbagai kebimbangan yang datang dan membuatku uring-uringan..
Aku sadar, tidak terlalu pantas merasa begini, karena sebenarnya aku tahu bahwa dalam hidupku aku punya seseorang, yang tidak pernah menyakitiku, Dia, Tuhan.
Hatiku hanya sering bertanya-tanya, di mana seseorang yang dulu pernah ada dalam keseharianku? katanya ketika jarak terpisah, perjalanan hubungan ini berlanjut... Tapi mengapa aku menemukan banyak keraguan dan nyaris putus asa?
Hatiku mencela, hei... ini hubungan biasa, persoalan biasa yang dialami orang-orang biasa... Seharusnya aku tahu dan tidak perlu khawatir. Seharusnya dengan mudah aku berjalan dengan dagu terangkat, sepasang earphone di kedua telingaku, tersenyum, berbicara, bercanda, meminum secangkir kopi atau coca-cola... tidak perlu peduli, apalagi stres. Ah, tenanglah, aku sedang mencobanya, sedang mencoba acuh tak acuh... Bukankah dia begitu? Tidak, aku tak sedang membalas perlakuannya, aku hanya ingin menyelamatkan diriku..., aku tidak mau lagi terperangkap pada jenis cinta yang begitu menakutkan, yang begitu membuatku bergantung, sama seperti dulu.
Pernah sekali aku ingin melontarkan perasaanku, bahwa dia, sama seperti dia. Tapi tidak jadi. Aku tahu aku punya segudang kesabaran untuk bertahan.
Kini aku kembali lagi... setelah berbagai kebimbangan yang datang dan membuatku uring-uringan..
Aku sadar, tidak terlalu pantas merasa begini, karena sebenarnya aku tahu bahwa dalam hidupku aku punya seseorang, yang tidak pernah menyakitiku, Dia, Tuhan.
Hatiku hanya sering bertanya-tanya, di mana seseorang yang dulu pernah ada dalam keseharianku? katanya ketika jarak terpisah, perjalanan hubungan ini berlanjut... Tapi mengapa aku menemukan banyak keraguan dan nyaris putus asa?
Hatiku mencela, hei... ini hubungan biasa, persoalan biasa yang dialami orang-orang biasa... Seharusnya aku tahu dan tidak perlu khawatir. Seharusnya dengan mudah aku berjalan dengan dagu terangkat, sepasang earphone di kedua telingaku, tersenyum, berbicara, bercanda, meminum secangkir kopi atau coca-cola... tidak perlu peduli, apalagi stres. Ah, tenanglah, aku sedang mencobanya, sedang mencoba acuh tak acuh... Bukankah dia begitu? Tidak, aku tak sedang membalas perlakuannya, aku hanya ingin menyelamatkan diriku..., aku tidak mau lagi terperangkap pada jenis cinta yang begitu menakutkan, yang begitu membuatku bergantung, sama seperti dulu.
Pernah sekali aku ingin melontarkan perasaanku, bahwa dia, sama seperti dia. Tapi tidak jadi. Aku tahu aku punya segudang kesabaran untuk bertahan.
Tuesday, July 20, 2010
Emerald
This is new... New post, new story... when i suddenly conscious that winter revenge it's just my old memories... Because this memories never come back, i just want to realized that my past love already gone, and missing in my heart.
Thanks for someone, who always be my inspiration in my old blog.. who give me a beautiful words to say..
Thanks for someone, who always be my inspiration in my old blog.. who give me a beautiful words to say..
Subscribe to:
Posts (Atom)