Terbang segala rasa manis, pahit, kangen, rindu, kesal, marah... Apa ini? Mati rasakah? Aku tertawa dibuatnya. Menembus segala pikiran, mencampakkan segala keluh kesah dan tiba-tiba aku termangu. Ragaku menyulap setiap tatapan mata, menimbulkan tawa canda, menggerakkan anggukan kepala, membiarkan mulut membulat dan berkata, "oh.." dengan reaksi yang sudah pasti positif.
Tapi siapa yang tahu dalam hati menjerit, menangis, meronta, terluka, dan terbakar? No one else.
Lantas, untuk apa merasa begitu? Kepada siapa rasa itu akhirnya terjadi? Juga..., mengapa mau-mau saja? jawabannya sederhana. Bukan mau, tapi terlanjur.
Aku pun menyadari, tak cukup rasanya penghargaan itu ada dalam hatinya. Sungguh, aku benar-benar mati rasa dibuatnya. Tidak tahu salahku yg mana lagi, tidak tahu apakah aku masih punya hak untuk berkata benar, well, tidak tahu.
Pantaskah aku marah? Pantaskah aku merasa bersalah?
Dilema menyerang tanpa ruang, aku hendak menghentikannya. Aku tahu ini berhenti, tapi akhirnya kematian hatiku menjulang tinggi. Hingga sekarang, tertawa pun gampang saja. Mengibaskan tangan pun gampang, apalagi berkata, "terserahlah" ...
Sebegitu desperate-kah? Bibirku menyunggingkan senyum lagi. Menghela nafas dan tunggu saja. Menunggu keputusan... Menunggu gudang kesabaranku.
Banyak yang berkata, sanggupkah aku menghadapinya? Aku tersenyum, pikiranku berkata tidak tapi hatiku berkata lain. Sampai kapan, sayang? ini pertanyaan hatiku. Jawabannya pun, aku hanya bisa bertahan sampai.... (semoga aku cukup bertahan tidak perlu memakai kata sampai).
No comments:
Post a Comment