Pages

Wednesday, May 29, 2013

Before And After

Tangga putaran di A&W. Tadi aku melintasinya, berjalan menaiki anak tangga dan kepalaku terasa pusing. Aku memiliki ketakutan tersendiri pada tangga. Lucu, ya? Saat menaiki anak tangga yang melingkar, aku merasa hampir jatuh. Saat menuruni anak tangga yang lurus-lurus saja pun--aku merasa nyaris terpeleset.
Kembali pada tangga tadi. Waktu itu, aku mengingat kau menuntunku dengan pasti, dan aku tahu aku tidak akan jatuh, meski pun kepalaku berputar dan nyaris saja membuat kakiku tersandung lagi.
Emm..., ada banyak hal... yang membuatku teringat.
Saat membeli bubble tea, aku seakan mendengar komentarmu di telingaku.
Saat menaruh mie instant dalam keranjang belanjaanku, aku teringat pesanmu, "Jangan makan mie terus," aku mendesah, kemudian tetap meletakkan mie itu dalam keranjang.
Saat aku memejamkan mataku dan ingin tertidur, aku teringat padamu. Saat aku bermimpi buruk dan terbangun dalam tidurku, saat aku mencarimu dan berbicara singkat denganmu via BBM, setelah itu, tidurku nyenyak.
Lalu..., teringat saat aku menemanimu membeli pisau cukur...
Kemudian..., saat mengantri di bank dan hujan rintik-rintik... seperti hari ini.
Saat makan nyaris tengah malam dan kau memilih oriental bento.
Saat memaksaku bernyanyi dan ikut karaoke.
Saat mengucapkan 'selamat malam' dan 'selamat pagi'.
Kau... sepertinya sudah pernah menjelajahi semua tempat yang ku singgahi. Sudah pernah berada dalam sudut mana pun, dan memori itu menari-nari dalam benakku.

Setelah sekian lama.... perhatian itu menyentuh hatiku, membaur segala rasa yang pernah tercipta : sedih, senang, marah, kecewa, bahagia, gelisah... Seberapa banyak pun rasa itu bercampur, semua itu karenamu, karena satu orang saja.

Dan ketika aku berjalan dalam diam, merenungkan, berpikir, gelisah, menyendiri...
Mungkinkah aku telah membuat keputusan yang benar?
Andai saja aku tidak bimbang dan terombang-ambing seperti ini... mungkin segalanya akan tetap seperti yang pernah ada.

Friday, May 24, 2013

Fall to Pieces

Tulisan itu...., seperti catatan yang membuatmu teringat, saat kau merasa sedang kehilangan memorimu.

Aku ingin mencatat, kisah-kisah yang pernah singgah dalam memoriku.
Ketika semua impian berubah menjadi sebuah memori, ketika harapan menguap begitu saja, karena... kau  sendiri yang memutuskan untuk menjadikannya sebuah ingatan.

Dimulai dari...--?
Ingatkah pada roller coaster yang membuat kepalamu berada di bawah, dan seseorang menyakinkanmu bahwa kau tidak akan jatuh? Aku ingat. Bagaimana genggaman dan tatapan itu menyakinkanku, bahwa semua akan baik-baik saja. Dan benar, aku tidak jatuh.
Ingatkah pada dinginnya udara di pagi hari? Menghalangi pandanganku terhadapmu dan kau--masih tetap di sana, dan kau--tidak pergi.
Ingatkah pada segala candaan dan komentarmu tentang, bagaimana pakaianku hari ini? Tentang bagaimana aku memutar bola mataku dan membuang pandanganku ke arah kaca jendela di samping kursi pengemudi? Dan kau menyesalinya dan berharap aku memutar wajahku menghadapmu. Aku ingat.
Dan..., ingatkah pada segala jarak yang begitu dekat, yang membuat detak jantung seolah-olah menyatu dan tidak akan lepas?

Itu semua memoriku.
Aku bukan pengingat yang baik, tapi aku tidak lupa sepenuhnya.

Dari sekian banyak hal yang pernah terjadi, aku menepis itu dan berjalan. Aku memutuskan dan menghindar. Aku tertawa dan khawatir. Akankah kau baik-baik saja? Akankah semua keegoisan akan terbang begitu saja? Dan ke mana langkah ini selanjutnya?

---

Langit dan Bumi itu bertemu
Sebuah pilihan itu memiliki resiko
Pada batasan yang seluas itu
Jam dinding besar berputar semakin cepat
Membiarkan kereta melaju
Mengubah pemandangan di luar sana
Ke mana?
Di mana?
Mengapa?

Saturday, March 23, 2013

Today's Report

Tidak ada mimpi.
Semua kenyataan itu sekilas beralih pada sebuah perbincangan singkat, tidak penting, hingga larut tengah malam, bahkan sampai pagi.
Tapi tidak ada apa-apa.
Aku bergumam, bertanya-tanya, memikirkan sesuatu, mencoba mengingat-ingat sesuatu, tapi tidak ada yang bisa kusimpulkan. Sejenak aku ingin melupakan semuanya. Tapi bunyi-bunyi itu terus berdentang menghampiri telingaku, dan senyum yang tersungging di bibirku tidak mampu ku cegah begitu saja. Hey..., mengapa harus kau?
Pada sebuah sosok yang mengaku tidak pernah mencintai siapa pun, pada sebuah sosok yang mengaku tidak pernah menjalin hubungan pada siapa pun, pada sebuah sosok yang... berkata ia ingin bebas. Haha! Menyenangkan. Aku tertarik.
Itu bohong, bukan? Awalnya aku percaya. Tapi seseorang bilang, itu tidak mungkin. Sebenarnya, aku nyaris saja percaya, karena kau mirip seseorang. Sangat mirip. Kau yang di mimpi, kau yang nyata, dan seseorang lagi yang sekarang tidak ada kabarnya, sangat mirip. Ku rasa jika aku tidak sekedar berhalusinasi melihat kau adalah dia, mungkin sampai saat ini, aku tidak sepenasaran itu.
Apakah rasa penasaran pada bentuk wajah, karateristik, dan kemiripanmu membuatku berubah? Lebih tepatnya, membuat perasaanku berubah, tidak sekedar penasaran, tapi... tertarik. Apakah aku melihatmu sebagai seseorang di masa lalu? Apa sebagai seseorang di masa kini?
Jika aku tidak tertarik, mengapa segala sesuatu yang sudah bernaung dalam hatiku terasa menguap begitu saja? Mengapa aku bahkan tidak merindukan apa-apa? Mengapa harus bermula dari dirimu? Aku tidak ingin, ini berlanjut terlalu jauh. Tapi..., kurasa aku memiliki beberapa laporan-laporan lain setiap harinya....

Friday, March 22, 2013

(Un) Invited Feeling

Nah, kenyataannya... semuanya tidak pernah berlalu.
Aku bermimpi, dalam selang beberapa hari, memimpikan orang yang sama, dalam kondisi seperti langit dan bumi.
Bermimpi tentang langit...
Malam itu sunyi, senyap. Aku, entah bagaimana caranya terduduk di sebuah kursi panjang berwarna biru tua. Di hadapanku juga meja panjang, di depanku, orang itu muncul.
Sebenarnya, ada hal-hal lain yang membuatku bimbang, mengapa dari sekian banyak wajah yang ku kenal, hanya dia yang muncul dalam bunga tidurku. Tapi, begitulah kenyataannya. Dia bercerita, tentang sebuah masa penuh cinta yang membuatnya berakhir dengan berkata, "I love her, very much."
Dan, hatiku terasa perih, tapi tidak terluka. Tapi aku terbangun, dengan sesuatu yang aneh. Dengan rasa kesepian yang benar-benar sepi, yang membuat hariku saat itu terlihat biru, sebiru-birunya. Mungkinkah itu ada hubungannya dengan mimpi aneh yang tidak terduga itu?
Lalu... Malam yang berbeda. Bermimpi tentang bumi...
Pada kenyataannya, dia yang asli adalah seseorang yang jauh, sekali pun kami menghentakkan kaki pada tanah yang sama, sekali pun kami menyisiri jalan yang sama, sekali pun kami juga berada pada rutinitas malam yang sama. Tapi sesuatu yang tidak terlihat, terbentang di antara kami.
Jadi, mimpi itu tidak sama seperti kenyataan. Aku merasakan sebuah tangan seseorang menggenggam tanganku dengan erat, erat sekali, bahkan dalam mimpi aku dapat merasakan secara nyata. Jangan tanya bagaimana bisa. Sebuah suara muncul dari bawah anak tangga, suara ribut, suara tawa, segerombolan orang. Dan tangan itu melepas tanganku begitu saja, kemudian dia tersenyum ke arahku, ciri khasnya, senyumnya benar-benar lembut. kami berjalan dalam hening, secara terpisah. Di tempat tujuan, bahu kami bersentuhan. Hanya itu. Lalu aku terbangun, dan mendapati sebuah perasaan yang aneh.
Ini hanya mimpi. Begitulah. Cerita ini berakhir karena peringatan yang logis, bahwa mimpi bukanlah kenyataan. *23 March 2013*

Kemudian... kisah ini di mulai.
Tidak ingat bagaimana tepatnya, bagaimana kisahnya.
Yang aku tahu, adalah sebuah perasaan ganjil yang mempertanyakan keberadaan yang dulu, kehilangan yang muncul, dan kehambaran yang menyesatkan.
Keberadaan yang dulu... seperti ini.
Aku melayangkan pandang pada beragam gambar yang mencuat dari balik memori penyimpananku. Mengisahkan kisah-kisah yang hangat, yang mengumbar banyak tawa dan emosi yang rumit, untuk seseorang yang sama. Yang mempercayakanku, bagaimana jarak itu dapat terukir di tengah keyakinan, bukan kebimbangan, bagaimana juga jarak itu dapat menyisakan jutaan perasaan yang tidak terungkap.
Sebenarnya, menurutku, seberapa jauh jarak itu tidak masalah, hanya... jarak apa yang tercipta? Itu pertanyaan tentang sebuah keberadaan.
Kehilangan yang muncul... adalah--
Penantian. Apa yang dapat hilang lalu dapat muncul? Atau apa yang menurutmu bisa muncul, di tengah-tengah rasa kehilangan? Atau mengapa kehilangan itu ada, ketika sesuatu yang lain mendadak muncul dan tidak bisa dipungkiri?
Hanya aku yang tahu. Pertanyaan tentang kehilangan adalah pertanyaan yang rumit. Serumit pemikiran tentang kedatangan sesuatu dalam hidup yang tak pernah terduga. Juga sama rumitnya tentang kebalikannya. Pada akhirnya, kehilangan yang muncul adalah... kenyataan yang tidak terduga.
Lalu... Kehambaran yang menyesatkan.
Menurutku, ini yang paling jelas, juga paling tidak masuk akal. Mengapa? Di saat waktu bergulir begitu cepat dan menandakan akhir dari segalanya, mengapa justru terasa hambar? Seperti..., seorang penari yang menari tanpa lagu. Seperti..., seorang penulis yang menulis tanpa arah. Seperti..., kau tersesat. *around 18 Feb to March before 23, 2013*

Seandainya, ini tidak muncul.
Seandainya, ini tidak ada.
Apa yang akan terjadi?
Seandainya, perasaan ringan yang terbang ini tidak kabur, menurutmu, kisah di kemudian hari akan jadi seperti apa?
Kalau kau tanya aku, aku tidak tahu, jujur.
Aku tidak memilih untuk mencari. Juga tidak memilih untuk menemukan. Aku tidak berharap pada pengandaian, juga tidak memutuskan untuk membuat keputusan. Aku hanya, berjalan.
Setiap iringan lagu yang menemani setiap hariku di tengah-tengah ketidaktentuan ini, membuatku mengalihkan pikiran dari segala hal yang terasa aneh. Dari setiap perubahan yang semakin lama semakin riuh.
Sekali pun aku berpikir tidak ada benang kusut di antara memori-memori dan kisah yang lain, tapi beberapa ikatan menggambarkan warna-warna yang tidak biasa. Seperti...
Abu-abu.
Mengapa abu-abu? Karena batas antara putih dan hitam itu rupanya ada.
Mengapa bukan hitam? bukan putih? Karena kebenaran tidak selalu dinyatakan dengan putih, dan kesalahan dinyatakan dengan hitam.
Jadi? Apa kesimpulannya adalah bimbang? Ragu? Tidak pasti? Mungkin juga.
Seperti warna lainnya, cokelat, merah muda, biru, merah, hijau, oranye, dan setiap lukisan campuran warna yang tercipta di antara benang-benang itu, sungguh heran ketika aku mendapati diriku tersenyum, dan mengganggap semua warna itu tidak ada. Alias, buta warna. Kau mengerti?

Aku...., yang berpikir dan belajar dari seseorang di masa musim dingin, tahu benar bagaimana mengendalikan perasaanku dengan pikiran, dengan logika. Tapi aku..., yang bukanlah seseorang dari musim dingin, masih menemukan kesulitan berpikir dengan jernih, sejernih seseorang di musim dingin, bertahun-tahun silam.

Sekedar penumpahan memori dalam bentuk tulisan. Musim dingin, mimpi, waktu, perasaan, dan pikiran, adalah hal-hal klise yang pasti terjadi di mana-mana. Benar, kan?