Aku bukan pembaca pikiran.
Tidak ada yang dapat kugambarkan ketika aku berusaha mengingat apa yang tersirat dalam sorot matanya.
Aku tak pernah lagi melihat sorot mata itu dalam jangka waktu yang lama.
Aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang ingin diutarakan--kalau itu maksudmu--aku tak pernah mengerti sesuatu hal yang tak ingin dia beritahu.
Hatiku menginginkan sebuah kepercayaan, aku percaya pada kalimat terakhir yang dia ucapkan.
Aku pernah berpikir seperti yang kamu pikirkan, tapi ketika tak ada satu pun jawaban keluar dari diriku, aku menjadi lelah dan percaya.
Aku tidak mengerti. Hingga kini, aku tak pernah mengerti.
Saturday, February 28, 2009
Insecure
Aku ingin menghapusnya dengan tidak meninggalkan jejak.
Aku ingin memilikinya dengan segala daya upaya.
Aku ingin memaki dengan segenap hati.
Aku ingin berontak dengan sekuat tenaga.
Pertama, aku tidak tahu mengapa aku harus percaya.
Kedua, aku tidak mengerti, mengapa si perasa itu lenyap.
Ketiga, aku menyadari ketakutan mulai memelukku.
Adakah sesuatu yang mampu membuatku lega? Kapan?
Adakah jalan yang mampu membuatku melangkah? Di mana?
Adakah ia memperlihatkan sisinya yang katanya begitu manusiawi? Bagaimana mungkin?
Adakah keyakinan yang tercipta setelahnya? Seberap besar?
Adakah hal yang mampu menjelaskan SEMUA ini? Kenapa?
Aku menginginkan hari--tanpa terlewati.
Aku ingin memilikinya dengan segala daya upaya.
Aku ingin memaki dengan segenap hati.
Aku ingin berontak dengan sekuat tenaga.
Pertama, aku tidak tahu mengapa aku harus percaya.
Kedua, aku tidak mengerti, mengapa si perasa itu lenyap.
Ketiga, aku menyadari ketakutan mulai memelukku.
Adakah sesuatu yang mampu membuatku lega? Kapan?
Adakah jalan yang mampu membuatku melangkah? Di mana?
Adakah ia memperlihatkan sisinya yang katanya begitu manusiawi? Bagaimana mungkin?
Adakah keyakinan yang tercipta setelahnya? Seberap besar?
Adakah hal yang mampu menjelaskan SEMUA ini? Kenapa?
Aku menginginkan hari--tanpa terlewati.
Thursday, February 26, 2009
Traction
Ketika rasa kosong itu membekap udara, aku tak kuasa bernapas. Ketika getaran itu memporak-poranda ruangan persegi itu, perasaanku lenyap. Mataku mencari hingga ke sudut-sudut ruangan, adakah setitik debu di sana? tanganku menggapai udara, lalu pikiranku bertanya; adakah jarak pemisah antara takdir dan nasib?
Tawa berdengung di telinga kanan dan kiriku. Umpatan sarkastis menggema hingga terpaksa masuk di sel-sel pengingat. Lalu setumpuk makian, sumpah-serapah, bersarang di suatu tempat, tak berucap, tak berujung, tak bermata.
Andai kata kepuasan adalah satu-satunya syarat untuk meraih kebahagiaan dan menghapus lubang menganga yang tercipta; maka pertanyaan satu=satunya yang tepat adalah; bagaimana?
******
Menghitung mundur… segalanya bermula.
September.
Oktober.
November.
Desember.
Januari.
Februari.
Tak pernahkah tiba-tiba kusadari bahwa bulan-bulan itu berjalan, namun banyak yang tertinggal, banyak yang terhapus, banyak yang terlupakan? Aku tahu, dan aku sadar.
Seseorang mendatangiku, lalu aku menyambutnya, lebih dari cukup. Seseorang lenyap, lalu aku merelakannya, lebih dari cukup. Apakah itu benar? Apakah itu harus? Apakah itu takdir? Ataukah itu nyata?
Kau tahu bahwa waktu berputar, entah cepat atau lambat, yang penting waktu berputar dan tak pernah berhenti, tak pernah mati. Lalu kau juga menyadari, seseorang datang dan pergi dalam hidupmu, tak peduli kau bahagia atau kau bersedih. Kau juga menyadari, hatimu adalah tempat di mana kau merasakan, rasa sedih, bahagia, sakit, menyesal, antusias, sombong, dan masih banyak lagi.
Tapi tak adakah yang tahu di mana penangkal dari segala rasa dan waktu? Kau memaksa menggunakan logikamu, berpikir, dan berpikir, namun tak ditemui jawabannya. Kemudian sesuatu selalu membuatmu lupa, dan kau menganggapnya kenangan. Begitukah caranya? Sekali lagi, waktu yang menyelesaikannya. Waktu. Lagi.
Jadi, tak pernahkah rasa ingin tahu itu berfungsi hingga waktu tak mampu membuat segalanya menyerah?
Tawa berdengung di telinga kanan dan kiriku. Umpatan sarkastis menggema hingga terpaksa masuk di sel-sel pengingat. Lalu setumpuk makian, sumpah-serapah, bersarang di suatu tempat, tak berucap, tak berujung, tak bermata.
Andai kata kepuasan adalah satu-satunya syarat untuk meraih kebahagiaan dan menghapus lubang menganga yang tercipta; maka pertanyaan satu=satunya yang tepat adalah; bagaimana?
******
Menghitung mundur… segalanya bermula.
September.
Oktober.
November.
Desember.
Januari.
Februari.
Tak pernahkah tiba-tiba kusadari bahwa bulan-bulan itu berjalan, namun banyak yang tertinggal, banyak yang terhapus, banyak yang terlupakan? Aku tahu, dan aku sadar.
Seseorang mendatangiku, lalu aku menyambutnya, lebih dari cukup. Seseorang lenyap, lalu aku merelakannya, lebih dari cukup. Apakah itu benar? Apakah itu harus? Apakah itu takdir? Ataukah itu nyata?
Kau tahu bahwa waktu berputar, entah cepat atau lambat, yang penting waktu berputar dan tak pernah berhenti, tak pernah mati. Lalu kau juga menyadari, seseorang datang dan pergi dalam hidupmu, tak peduli kau bahagia atau kau bersedih. Kau juga menyadari, hatimu adalah tempat di mana kau merasakan, rasa sedih, bahagia, sakit, menyesal, antusias, sombong, dan masih banyak lagi.
Tapi tak adakah yang tahu di mana penangkal dari segala rasa dan waktu? Kau memaksa menggunakan logikamu, berpikir, dan berpikir, namun tak ditemui jawabannya. Kemudian sesuatu selalu membuatmu lupa, dan kau menganggapnya kenangan. Begitukah caranya? Sekali lagi, waktu yang menyelesaikannya. Waktu. Lagi.
Jadi, tak pernahkah rasa ingin tahu itu berfungsi hingga waktu tak mampu membuat segalanya menyerah?
Sunday, February 8, 2009
Lullaby
Aku sadar sesuatu telah terhempas jauh ke belakang,
namun aku masih menginginkannya.
Aku sadar sesuatu itu telah hilang dari hatiku,
namun aku tak berani menghapusnya.
Hingga di sini kutemui antara rasa takjub dan bimbang,
bahwa tak pernah aku merasakan ini sebelumnya.
Kutelusuri alam pikiranku, bagaimana gambaran hari atau minggu berikutnya,
dan kemudian kudapati rangkaian pikiran yang seringan bulu.
Aku mencoba tersenyum, namun tersentak ketika gagal.
namun aku masih menginginkannya.
Aku sadar sesuatu itu telah hilang dari hatiku,
namun aku tak berani menghapusnya.
Hingga di sini kutemui antara rasa takjub dan bimbang,
bahwa tak pernah aku merasakan ini sebelumnya.
Kutelusuri alam pikiranku, bagaimana gambaran hari atau minggu berikutnya,
dan kemudian kudapati rangkaian pikiran yang seringan bulu.
Aku mencoba tersenyum, namun tersentak ketika gagal.
Friday, February 6, 2009
Quarrel
Apa kau merindukan aku?
Apa aku terlalu naif untuk berpikir demikian?
Apa sesungguhnya yang tercipta di alam bawah sadarmu?
Kekosongan atau bukan?
Apa yang memenuhi ruangan di sudut-sudut hatimu?
Sesuatu yang memandang jauh--ataukah sepercik api yang telah timbul dan menjadi ganas, di sini? di relung hati.
Hingga dingin pun tak bisa membeku dengan jujurnya.
Apa aku terlalu naif untuk berpikir demikian?
Apa sesungguhnya yang tercipta di alam bawah sadarmu?
Kekosongan atau bukan?
Apa yang memenuhi ruangan di sudut-sudut hatimu?
Sesuatu yang memandang jauh--ataukah sepercik api yang telah timbul dan menjadi ganas, di sini? di relung hati.
Hingga dingin pun tak bisa membeku dengan jujurnya.
Thursday, February 5, 2009
Quixotic
Aku menyadari tak selamanya keinginan akan terwujud.
Hahaha, mengertikah bahwa dunia memperlihatkan segala yang berwujud manis?
Dan semua itu menarik bibir untuk mencuat menciptakan senyuman, tawa.
Tapi semua membelenggu hati, mengeraskan untuk bertahan dan tetap kuat.
Lelahkah atas semua yang tercipta?
Aku melamun. Merenung.
Akh. Terlalu banyak.
Selalu terlalu banyak bahasa yang tercipta untuk menggambarkan sesuatu.
Tapi tak semua bahasa tepat untuk digunakan, tepat untuk menunjuk hati bahwa itulah yang ingin diutarakan.
Tidak semua. Nyaris tak ada malah.
Aku bingung bagaimana menggambarkan suasana hati.
Kuat. Tangguh. Bahagia. Merana.
Satu hal yang kutahu, sisa waktu tidak akan terlalu banyak lagi sekarang.
Bahasa yang ada bahkan tak cukup arti.
Kebimbangan berlanjut hingga keputusan diambil, tapi aku tak tahu kapan.
Kadang aneh juga mencari-cari si koleris. Entah bersembunyi di sudut yang mana.
Relung hati yang terdalam mengisyaratkan kemampuan melupakan.
Kemampuan lain yang kutemui adalah tersenyum, dan tangguh. :)
Hahaha, mengertikah bahwa dunia memperlihatkan segala yang berwujud manis?
Dan semua itu menarik bibir untuk mencuat menciptakan senyuman, tawa.
Tapi semua membelenggu hati, mengeraskan untuk bertahan dan tetap kuat.
Lelahkah atas semua yang tercipta?
Aku melamun. Merenung.
Akh. Terlalu banyak.
Selalu terlalu banyak bahasa yang tercipta untuk menggambarkan sesuatu.
Tapi tak semua bahasa tepat untuk digunakan, tepat untuk menunjuk hati bahwa itulah yang ingin diutarakan.
Tidak semua. Nyaris tak ada malah.
Aku bingung bagaimana menggambarkan suasana hati.
Kuat. Tangguh. Bahagia. Merana.
Satu hal yang kutahu, sisa waktu tidak akan terlalu banyak lagi sekarang.
Bahasa yang ada bahkan tak cukup arti.
Kebimbangan berlanjut hingga keputusan diambil, tapi aku tak tahu kapan.
Kadang aneh juga mencari-cari si koleris. Entah bersembunyi di sudut yang mana.
Relung hati yang terdalam mengisyaratkan kemampuan melupakan.
Kemampuan lain yang kutemui adalah tersenyum, dan tangguh. :)
Subscribe to:
Posts (Atom)