Seandainya semua impian bisa menjadi nyata…. Entah mengapa sulit rasanya menerima kenyataan yang sama sekali bukan dirimu.
Begitu kau terbangun dan menjejakkan kaki di tanah, seolah-olah kau berada pada tubuh orang lain. Seolah-olah kau terhilang dari jiwamu dan merasuki raga yang sama sekali tak kau kenal.
Kau berusaha tersenyum di tengah keterasinganmu. Berusaha melakukan sesuatu dan menjadi dirinya. Tapi tak urung juga kau berpikir, sebenarnya apa yang sedang kulakukan? Ya…, tidak enak.
Ketika kau bertanya pada orang lain, dan kata termudah untuk menghiburmu adalah, “come on…, u can’t do anything, just accept it.” Tidak perlu melakukan apa-apa, apa yang terjadi, hadapi saja. Well, sungguh mudah berbicara, tapi tak menghibur.
Lalu pikiranmu beralih menjadi, Bagaimana jika aku melakukan sesuatu? Ketika kau mulai bangkit dan berharap, ternyata impianmu seringan debu, dan kau tertiup.
Lantas apakah pasrah dan berjalan saja adalah yang terbaik?
Monday, December 27, 2010
Wednesday, December 22, 2010
No Change
Setiap detik saatku teringat,
Entah memilih tersenyum atau bersedih,
Keduanya terasa, saat kau begitu berbeda.
Ketika bertanya pada perasaanku,
Dengan takut aku menjawab, “ya”,
Pada anggukan cinta yang tiada menentu…
Dengan takut pula aku menggeleng
Pada penegasan rasa yang juga tak tentu.
Kabur.
Sunyi.
Diam.
Ketika mataku melirik pada ponsel di atas meja,
Tiba-tiba nama singkat itu muncul,
Layar ponselku berkedip, sama dengan mataku yang berkedip terkejut…,
Bercampur dengan rasa hangat yang merayapi raga…
Tapi lalu setiap kata dan setiap kiriman semakin berbeda,
Dengan nada dan kosakata yang berbeda pula…
Nyaris air mataku jatuh,
“Seperti ini lagi,” desahku dalam hati.
Tak perlu berlama-lama merasa hangat,
Karena pada akhirnya dingin pun merambati tulang-tulangku.
Astaga, selalukah berakhir seperti ini?
Entah memilih tersenyum atau bersedih,
Keduanya terasa, saat kau begitu berbeda.
Ketika bertanya pada perasaanku,
Dengan takut aku menjawab, “ya”,
Pada anggukan cinta yang tiada menentu…
Dengan takut pula aku menggeleng
Pada penegasan rasa yang juga tak tentu.
Kabur.
Sunyi.
Diam.
Ketika mataku melirik pada ponsel di atas meja,
Tiba-tiba nama singkat itu muncul,
Layar ponselku berkedip, sama dengan mataku yang berkedip terkejut…,
Bercampur dengan rasa hangat yang merayapi raga…
Tapi lalu setiap kata dan setiap kiriman semakin berbeda,
Dengan nada dan kosakata yang berbeda pula…
Nyaris air mataku jatuh,
“Seperti ini lagi,” desahku dalam hati.
Tak perlu berlama-lama merasa hangat,
Karena pada akhirnya dingin pun merambati tulang-tulangku.
Astaga, selalukah berakhir seperti ini?
Saturday, November 13, 2010
Move to End...
Nyaris saja aku menangis lebih lama. Aku menghapusnya, sekalipun aku tidak mampu.
Aku ingin tertawa, mengapa baru sekarang mencariku??? Tawa, tapi bukan tawa bahagia.
Pendapat itu..., masih terpatri jelas dalam benakku...
Aku menimbang dengan berat...
Jelas, aku masih bingung.
Tidak tahu mengapa, kau membuatku kesal dan sedih di saat bersamaan.
Kau membuatku menangis tanpa bisa mengutarakan apa-apa...
Aku ingin bilang aku tak sanggup, tapi aku tak sanggup berkata "aku tidak sanggup"...
Kalau aku bertanya...,
Benarkah kau mencintaiku?
Akankah kau mengingatku bila aku bukan lagi seseorang yang pernah ada dalam hatimu?
Apakah kau akan menyesal, jika aku pergi dari kehidupanmu?
Akankah aku teringat padamu dan merindukanmu jika semua itu terjadi...? Itu pasti menyakitkan...
Aku ingin tertawa, mengapa baru sekarang mencariku??? Tawa, tapi bukan tawa bahagia.
Pendapat itu..., masih terpatri jelas dalam benakku...
Aku menimbang dengan berat...
Jelas, aku masih bingung.
Tidak tahu mengapa, kau membuatku kesal dan sedih di saat bersamaan.
Kau membuatku menangis tanpa bisa mengutarakan apa-apa...
Aku ingin bilang aku tak sanggup, tapi aku tak sanggup berkata "aku tidak sanggup"...
Kalau aku bertanya...,
Benarkah kau mencintaiku?
Akankah kau mengingatku bila aku bukan lagi seseorang yang pernah ada dalam hatimu?
Apakah kau akan menyesal, jika aku pergi dari kehidupanmu?
Akankah aku teringat padamu dan merindukanmu jika semua itu terjadi...? Itu pasti menyakitkan...
Sunday, November 7, 2010
Voice...
Nada sambung terhubung, berganti sebuah suara, "Halo..."
Sunyi...
"Halo...,"
Sunyi lagi...
"Halo..."
Sungguh tetap sunyi.
Tidak kuasa menahan sesuatu yang melawan ingin bebas di balik bola mata ini.
"Halo...," suara di seberang berganti tanda tanya. "Halo...?"
Dalam hati menghitung, satu halo..., dua halo..., tiga halo...
empat, lima, enam, tujuh....
Sudahlah, aku menghentikannya. Setidaknya aku tahu ada jawaban, dan aku bisa mengambil kesimpulan sendiri.
Sunyi...
"Halo...,"
Sunyi lagi...
"Halo..."
Sungguh tetap sunyi.
Tidak kuasa menahan sesuatu yang melawan ingin bebas di balik bola mata ini.
"Halo...," suara di seberang berganti tanda tanya. "Halo...?"
Dalam hati menghitung, satu halo..., dua halo..., tiga halo...
empat, lima, enam, tujuh....
Sudahlah, aku menghentikannya. Setidaknya aku tahu ada jawaban, dan aku bisa mengambil kesimpulan sendiri.
Many Things
Aku ingin menulis...., sebab pikiranku begitu penuh sekarang...
Tapi aku tiba-tiba tidak mengerti mengapa sulit menggambarkan rangkaian yang begitu penuh ini...
Telingaku mendengar banyak perkataan, banyak keluhan, banyak amarah..., rasa-rasanya aku ingin pergi menjauh.
Ketika aku sendirian..., yang kupikirkan malah tambah banyak...
Tiba-tiba aku mengantuk...
Tapi aku tiba-tiba tidak mengerti mengapa sulit menggambarkan rangkaian yang begitu penuh ini...
Telingaku mendengar banyak perkataan, banyak keluhan, banyak amarah..., rasa-rasanya aku ingin pergi menjauh.
Ketika aku sendirian..., yang kupikirkan malah tambah banyak...
Tiba-tiba aku mengantuk...
Saturday, November 6, 2010
Silly
Aku tak pernah malu untuk mengakui bahwa aku merindukanmu.
Aku tak pernah takut mengatakan kalau aku mencintaimu.
Aku tak pernah berbohong mengatakan kalau aku gelisah karenamu.
Tapi kenapa...
Kenapa kamu berbeda denganku?
Kenapa kamu tak mau mengatakannya, jika, dan hanya jika kamu merasakan hal yang sama?
Apa ketika ditanya..., kamu berbohong?
Jauh malam saat ini..., dan bodoh rasanya aku memikirkan dirimu.
-.+'
Aku ga bisa tidur..., dan kau tidak pernah ada saat aku tak bisa tidur...."
TT
Aku tak pernah takut mengatakan kalau aku mencintaimu.
Aku tak pernah berbohong mengatakan kalau aku gelisah karenamu.
Tapi kenapa...
Kenapa kamu berbeda denganku?
Kenapa kamu tak mau mengatakannya, jika, dan hanya jika kamu merasakan hal yang sama?
Apa ketika ditanya..., kamu berbohong?
Jauh malam saat ini..., dan bodoh rasanya aku memikirkan dirimu.
-.+'
Aku ga bisa tidur..., dan kau tidak pernah ada saat aku tak bisa tidur...."
TT
Can't Sleep...
Melupakanmu adalah hal yang sulit bagiku.
Mengingatmu pun sama sulitnya bagiku.
Aku tak tahu bagaimana kabarmu..., aku tak tahu kau sedang apa..., aku juga tak tahu dengan siapa kau sekarang.
Terkadang, malam mengingatkanku padamu, di setiap bagian rumahku, mengingatkanku pada gerak-gerikmu, pada pelukkanmu, pada senyumanmu, ....
Susah payah aku menghapus semua bayang itu.
Kamu marah saat aku bilang, aku tidak bisa tidur... mungkin kamu pikir, lebih baik kamu tidak membahas semua masalah yang kamu alami..., lalu kubilang, lebih baik tidak usah lagi menghubungiku...
Karena, hal lain yang tak bisa kulakukan adalah berhenti mengkhawatirkan dirimu.
Kadang-kadang lelah rasanya bergulat dalam amarah dan perdebatan, ingin semuanya cukup dan berhenti saja..., lelah menghawatirkanmu, lelah bertengkar denganmu, lelah memikirkanmu...
Egoiskah?
kalau kupikir, ya...
Aku tahu masalahmu jauh lebih banyak dari sekedar hubungan seperti ini.
Aku tahu bagimu hubungan seperti ini sangat sederhana, mungkin juga tidak ada artinya.
Aku hanya sedih, mengapa aku tidak bisa menganggap semua ini sesederhana pikiranmu, segampang ucapanmu, dan... mungkin kamu bisa semuanya tanpaku.
Benar, andai aku sanggup, sudah jauh hari aku menerapkannya.
Dan terakhir..., semoga saja kamu benar-benar baik-baik saja.
Aku tak ingin lagi bilang aku merindukanmu, atau apa pun. Aku tahu hasilnya sama saja, tidak ada arti khusus lagi, mungkin.
------------------------------------------------------------------------------------
Benakku berpikir...
ketika mengetahui tempatmu begitu rawan bencana, aku jadi lebih tahu bagaimana perasaan orang-orang yang kehilangan, ditinggal mati oleh orang yang dicintainya, oleh keluarga, dll...
Rasanya begitu khawatir dan takut, campur aduk. Aku tahu karena, di sana ada seseorang yang kucintai. Dan seketika aku ingin berada di sana, memastikan kau tidak apa-apa. Tapi sepertinya aku memikirkan terlalu jauh. Pada akhirnya, aku hanya bisa berdoa, semoga kamu baik-baik saja, dan siapa pun yang tinggal di sana, semoga semuanya cepat selesai, dan tidak ada apa-apa...
Mengingatmu pun sama sulitnya bagiku.
Aku tak tahu bagaimana kabarmu..., aku tak tahu kau sedang apa..., aku juga tak tahu dengan siapa kau sekarang.
Terkadang, malam mengingatkanku padamu, di setiap bagian rumahku, mengingatkanku pada gerak-gerikmu, pada pelukkanmu, pada senyumanmu, ....
Susah payah aku menghapus semua bayang itu.
Kamu marah saat aku bilang, aku tidak bisa tidur... mungkin kamu pikir, lebih baik kamu tidak membahas semua masalah yang kamu alami..., lalu kubilang, lebih baik tidak usah lagi menghubungiku...
Karena, hal lain yang tak bisa kulakukan adalah berhenti mengkhawatirkan dirimu.
Kadang-kadang lelah rasanya bergulat dalam amarah dan perdebatan, ingin semuanya cukup dan berhenti saja..., lelah menghawatirkanmu, lelah bertengkar denganmu, lelah memikirkanmu...
Egoiskah?
kalau kupikir, ya...
Aku tahu masalahmu jauh lebih banyak dari sekedar hubungan seperti ini.
Aku tahu bagimu hubungan seperti ini sangat sederhana, mungkin juga tidak ada artinya.
Aku hanya sedih, mengapa aku tidak bisa menganggap semua ini sesederhana pikiranmu, segampang ucapanmu, dan... mungkin kamu bisa semuanya tanpaku.
Benar, andai aku sanggup, sudah jauh hari aku menerapkannya.
Dan terakhir..., semoga saja kamu benar-benar baik-baik saja.
Aku tak ingin lagi bilang aku merindukanmu, atau apa pun. Aku tahu hasilnya sama saja, tidak ada arti khusus lagi, mungkin.
------------------------------------------------------------------------------------
Benakku berpikir...
ketika mengetahui tempatmu begitu rawan bencana, aku jadi lebih tahu bagaimana perasaan orang-orang yang kehilangan, ditinggal mati oleh orang yang dicintainya, oleh keluarga, dll...
Rasanya begitu khawatir dan takut, campur aduk. Aku tahu karena, di sana ada seseorang yang kucintai. Dan seketika aku ingin berada di sana, memastikan kau tidak apa-apa. Tapi sepertinya aku memikirkan terlalu jauh. Pada akhirnya, aku hanya bisa berdoa, semoga kamu baik-baik saja, dan siapa pun yang tinggal di sana, semoga semuanya cepat selesai, dan tidak ada apa-apa...
Wednesday, August 25, 2010
Raphsody
Hari ini aku mengamatimu, dari kejauhan dan kecanggihan teknologi tentu saja. Bersyukur kalau kamu cukup bahagia di sana. Bersyukur kalau kamu memiliki teman, sahabat, mungkin yang lebih dari itu di sana, saudara mungkin....
Ah..., betapa ini pilu, namun cukup terhibur.
Aku tahu tidak ada jaminan kau kembali. Tapi aku tahu Dia pasti memberiku pengertian.
Ah..., betapa ini pilu, namun cukup terhibur.
Aku tahu tidak ada jaminan kau kembali. Tapi aku tahu Dia pasti memberiku pengertian.
Wednesday, August 18, 2010
Miss You
Aku merindukanmu..
Aku teringat sinar matamu, amarah di matamu, sendu yg pernah singgah di matamu..
Aku tertegun mengingat senyummu, suara tawamu, suara marah dan gelisahmu.
Aku terpaku bila wangi parfummu kadang terlintas di hidungku dan aku berpaling untuk sekedar melihat siapa, walau aku tahu itu bukan..
Aku menghentikan gerakan sendok garpuku ketika aku teringat ucapan doa makanmu, aku tertawa kecil, kali ini berdoa saja sendiri..
Aku merasa tak perlu menangis untukmu, walau kadang perih dan sakit, kau yang bilang begitu.
Aku bersyukur sebab seseorang berkata aku punya sejuta alasan untuk bahagia..
Aku bersyukur menjumpai sebuah tulisan yang menulis, "janganlah kamu kuatir."
Aku tahu kesedihan hanyalah bagian dari kehidupan, resiko dari keputusan, dan kadang-kadang kita diizinkan merasakannya..
Karena itu sekalipun aku sedih karenamu, aku bersyukur, dan aku sungguh merindukanmu.
Aku teringat sinar matamu, amarah di matamu, sendu yg pernah singgah di matamu..
Aku tertegun mengingat senyummu, suara tawamu, suara marah dan gelisahmu.
Aku terpaku bila wangi parfummu kadang terlintas di hidungku dan aku berpaling untuk sekedar melihat siapa, walau aku tahu itu bukan..
Aku menghentikan gerakan sendok garpuku ketika aku teringat ucapan doa makanmu, aku tertawa kecil, kali ini berdoa saja sendiri..
Aku merasa tak perlu menangis untukmu, walau kadang perih dan sakit, kau yang bilang begitu.
Aku bersyukur sebab seseorang berkata aku punya sejuta alasan untuk bahagia..
Aku bersyukur menjumpai sebuah tulisan yang menulis, "janganlah kamu kuatir."
Aku tahu kesedihan hanyalah bagian dari kehidupan, resiko dari keputusan, dan kadang-kadang kita diizinkan merasakannya..
Karena itu sekalipun aku sedih karenamu, aku bersyukur, dan aku sungguh merindukanmu.
Saturday, August 14, 2010
A Little too Estimate Me
Sungguh.. Aku tahu dengan pasti apa yang menjadi debu dan salju dalam pikiranku.. Namun begitu penuh muatannya hingga aku tak ingin lagi menampungnya.. Siapakah yang dapat menilai suatu kebenaran atau kesalahan? Siapakah yang berhak mengintervensi kehidupan seseorang dan menjadikannya sebagai perbincangan ringan, obrolan tengah hari mungkin? Manusiakah?
Terkadang aku ingin berbuat semaunya dan cuek saja.. Tapi aku tahu itu tidak mungkin.
Aku menghela napas. Nyaris dirimu membuatku sesak napas tiba-tiba.. Mengapa sekarang jadi berantakan? Aku ingin melepas semua yang bisa dilepas.. Tapi aku tidak sanggup.. Sekaligus tidak sanggup mengakui kenyataan bahwa kau.. Sama saja.
Terkadang aku ingin berbuat semaunya dan cuek saja.. Tapi aku tahu itu tidak mungkin.
Aku menghela napas. Nyaris dirimu membuatku sesak napas tiba-tiba.. Mengapa sekarang jadi berantakan? Aku ingin melepas semua yang bisa dilepas.. Tapi aku tidak sanggup.. Sekaligus tidak sanggup mengakui kenyataan bahwa kau.. Sama saja.
Saturday, July 31, 2010
Stubborn
Inginku pindah tempat...
Inginku menjauh dan pergi...
Lelah merasa demikian..
Lelah berfikir dan lelah gelisah..
Lemas dan terhuyung...
Di samping itu..., aku hanya ingin bilang, "selamat jalan, selamat menikmati lingkungan yang baru besok..."
Inginku menjauh dan pergi...
Lelah merasa demikian..
Lelah berfikir dan lelah gelisah..
Lemas dan terhuyung...
Di samping itu..., aku hanya ingin bilang, "selamat jalan, selamat menikmati lingkungan yang baru besok..."
Friday, July 30, 2010
Maybe I'm Brainless
Well, aku tak mengerti apa maumu. Aku pusing menjawab semuanya. Kalau ada recycle been, wah girang setengah mati, deh! Atau kalau aku punya pensieve, nggak kalah girang.
Aku lelah! Aku lelah kau buatku gemetar raga dan jiwa, kau tahu tidak?
Mengapa tidak ada lagi kebahagiaan di antara kita?
Aku bertanya-tanya, jika digambarkan, dengan simbol tanda tanya font 72!
Aku bertanya seluruhnya! Kau buatku mati rasa, kau muncul tiba-tiba, kau membuat lingkaran mataku menghitam dan sembab. Tahu tidak?!
Kau minta maaf dan khawatir, kau begitu dan HANYA begitu! Apa aku sungguh tidak layak bahagia saat berjalan denganmu, hah? Kadang-kadang aku ingin LARI! aku ingin lari sejauh mungkin, aku ingin diam sediam mungkin, aku ingin berpikir dengan akal sehatku, karena selama ini mungkin aku berpikir tapi akal sehatku nggak ikutan rapat pikiran.
Aku resah dan gelisah. Setiap malam kau membuatku seperti ini, siapa yang tidak lelah? siapa yang tidak sakit?! ke mana dirimu saat aku membutuhkan seseorang? Haruskah kucari orang lain selain dirimu yg bisa membuatku bahagia, cinta tanpa ego, harga diri, terjepit keadaan, dsb. Kalau boleh kuungkapkan, jika keadaan menjepitmu, seharusnya kau sendiri bisa mengambil jalan lain untuk menghubungiku, itulah pengorbanan.
Saatku sakit kau tidak ada. Saatku butuh seseorang kau tidak muncul. Saatku menangis kau tidak menghiburku. Saatku ingin bercerita dan kubahagia, kau juga tidak ada bersamaku. Saatku tidak bisa tidur, mungkin kau tertidur lelap. Saatku kacau, kau menghilang! kau menghilang! menghilang! Sadarkah bahwa kau sungguh menyakitiku? Ku tanya kau di mana, lama-lama aku bertanya siapa dirimu.
Aku lelah! Aku lelah kau buatku gemetar raga dan jiwa, kau tahu tidak?
Mengapa tidak ada lagi kebahagiaan di antara kita?
Aku bertanya-tanya, jika digambarkan, dengan simbol tanda tanya font 72!
Aku bertanya seluruhnya! Kau buatku mati rasa, kau muncul tiba-tiba, kau membuat lingkaran mataku menghitam dan sembab. Tahu tidak?!
Kau minta maaf dan khawatir, kau begitu dan HANYA begitu! Apa aku sungguh tidak layak bahagia saat berjalan denganmu, hah? Kadang-kadang aku ingin LARI! aku ingin lari sejauh mungkin, aku ingin diam sediam mungkin, aku ingin berpikir dengan akal sehatku, karena selama ini mungkin aku berpikir tapi akal sehatku nggak ikutan rapat pikiran.
Aku resah dan gelisah. Setiap malam kau membuatku seperti ini, siapa yang tidak lelah? siapa yang tidak sakit?! ke mana dirimu saat aku membutuhkan seseorang? Haruskah kucari orang lain selain dirimu yg bisa membuatku bahagia, cinta tanpa ego, harga diri, terjepit keadaan, dsb. Kalau boleh kuungkapkan, jika keadaan menjepitmu, seharusnya kau sendiri bisa mengambil jalan lain untuk menghubungiku, itulah pengorbanan.
Saatku sakit kau tidak ada. Saatku butuh seseorang kau tidak muncul. Saatku menangis kau tidak menghiburku. Saatku ingin bercerita dan kubahagia, kau juga tidak ada bersamaku. Saatku tidak bisa tidur, mungkin kau tertidur lelap. Saatku kacau, kau menghilang! kau menghilang! menghilang! Sadarkah bahwa kau sungguh menyakitiku? Ku tanya kau di mana, lama-lama aku bertanya siapa dirimu.
Tuesday, July 27, 2010
BItter Decision, Sweet Memory
Ketika keputusan itu terbayang di benakku, aku gelisah. Entah mengapa seluruh jiwa seolah pahit dibuatnya. Mungkin benar aku terjebak, terjebak dalam situasi sulit yang membuatku lebih baik mengambil keputusan daripada semua ini terus berlanjut tanpa arah.
Aku diam. Hatiku tiba-tiba peka. Ragaku mulai mati rasa. Otakku nyaris terbelit. Langkahku terhuyung. Betapa aku pernah merindukan suara itu, betapa hatiku nyaris teriris melihat senyumnya yang datang di khayalku. Betapa..., kulitku terasa sakit ketika cinta mencambukku di tempat yang sama.
Setipis rasa kenikmatan antara dicintai dan disakiti, seperti itulah bayangmu di masa lalu dan sekarang. Antara bias warnamu kupilih merah muda, menjelma jadi abu-abu. Lalu kadang merah dan membakar... Sungguh kalau boleh jujur, aku ragu antara nyata atau tidak dirimu.
Ketika aku beranjak untuk percaya, dan jarak pun turun tangan serta menantangku tanpa janji, entah dirimu atau mungkin bukan lagi dirimu..., aku tetap ragu.. Hingga kini tidak ada satu manusia pun yang bisa membuatku tenang dalam kepercayaan. Aku tak mudah percaya. Dan sialnya kau tak mengingat hal itu, atau tak mengerti, atau kau pikir itu hanya hal kecil yang bisa diatasi. Salah besar.
Dan kau melakukannya....
Aku diam. Hatiku tiba-tiba peka. Ragaku mulai mati rasa. Otakku nyaris terbelit. Langkahku terhuyung. Betapa aku pernah merindukan suara itu, betapa hatiku nyaris teriris melihat senyumnya yang datang di khayalku. Betapa..., kulitku terasa sakit ketika cinta mencambukku di tempat yang sama.
Setipis rasa kenikmatan antara dicintai dan disakiti, seperti itulah bayangmu di masa lalu dan sekarang. Antara bias warnamu kupilih merah muda, menjelma jadi abu-abu. Lalu kadang merah dan membakar... Sungguh kalau boleh jujur, aku ragu antara nyata atau tidak dirimu.
Ketika aku beranjak untuk percaya, dan jarak pun turun tangan serta menantangku tanpa janji, entah dirimu atau mungkin bukan lagi dirimu..., aku tetap ragu.. Hingga kini tidak ada satu manusia pun yang bisa membuatku tenang dalam kepercayaan. Aku tak mudah percaya. Dan sialnya kau tak mengingat hal itu, atau tak mengerti, atau kau pikir itu hanya hal kecil yang bisa diatasi. Salah besar.
Dan kau melakukannya....
Saturday, July 24, 2010
Naive
Aku...
belum pernah merasakan ini. Aku belum tahu sensasi seperti ini. Ini aneh dan gila. Itu saja yang kutahu. Aku bertanya-tanya mengapa pikiranku benar-benar buntu dan tak bekerja? Aku heran. Mengapa aku menjawab tanpa berpikir? Aku lebih heran lagi. Mengapa..., mengapa tiba-tiba aku lancar menjawab tapi hatiku mati dan tak ikut ambil kendali? Ada apa ini?
Aku bertanya di mana... tidak ada jawaban.
Aku bertanya sedang apa... tidak ada jawaban.
Aku bertanya mengapa... tidak ada jawaban juga.
Jelas, aku bertanya dalam hati.
Di sini ada banyak sekali orang-orang. Tidak takutkah kamu? Tidak khawatirkah kamu jika ada yang lebih menyayangiku? jika ada yang lebih memperhatikanku? Tidakkah kamu berpikir apa pun? Tertawakah kamu di sana? Nyaman? Lupa dan sebagainya? Apa kamu tidak takut? Lama-lama aku yang takut aku lupa...
Tidakkah kamu rela melepas setiap egomu?
Jangan terlalu pasrah... Jangan terlalu bergantung pada keadaanmu... Karena sekali pun cinta tidak diukur dari pengorbanan dan usaha, penilaian tetap orang lain yang menilai, termasuk aku.
Aku tahu jika kubicarakan hal ini, argumen darimu mudah kuterima, dan aku mengerti. Tapi semua itu seperti roda yang berputar tapi tak ada ujung.
belum pernah merasakan ini. Aku belum tahu sensasi seperti ini. Ini aneh dan gila. Itu saja yang kutahu. Aku bertanya-tanya mengapa pikiranku benar-benar buntu dan tak bekerja? Aku heran. Mengapa aku menjawab tanpa berpikir? Aku lebih heran lagi. Mengapa..., mengapa tiba-tiba aku lancar menjawab tapi hatiku mati dan tak ikut ambil kendali? Ada apa ini?
Aku bertanya di mana... tidak ada jawaban.
Aku bertanya sedang apa... tidak ada jawaban.
Aku bertanya mengapa... tidak ada jawaban juga.
Jelas, aku bertanya dalam hati.
Di sini ada banyak sekali orang-orang. Tidak takutkah kamu? Tidak khawatirkah kamu jika ada yang lebih menyayangiku? jika ada yang lebih memperhatikanku? Tidakkah kamu berpikir apa pun? Tertawakah kamu di sana? Nyaman? Lupa dan sebagainya? Apa kamu tidak takut? Lama-lama aku yang takut aku lupa...
Tidakkah kamu rela melepas setiap egomu?
Jangan terlalu pasrah... Jangan terlalu bergantung pada keadaanmu... Karena sekali pun cinta tidak diukur dari pengorbanan dan usaha, penilaian tetap orang lain yang menilai, termasuk aku.
Aku tahu jika kubicarakan hal ini, argumen darimu mudah kuterima, dan aku mengerti. Tapi semua itu seperti roda yang berputar tapi tak ada ujung.
Every Feeling
Terbang segala rasa manis, pahit, kangen, rindu, kesal, marah... Apa ini? Mati rasakah? Aku tertawa dibuatnya. Menembus segala pikiran, mencampakkan segala keluh kesah dan tiba-tiba aku termangu. Ragaku menyulap setiap tatapan mata, menimbulkan tawa canda, menggerakkan anggukan kepala, membiarkan mulut membulat dan berkata, "oh.." dengan reaksi yang sudah pasti positif.
Tapi siapa yang tahu dalam hati menjerit, menangis, meronta, terluka, dan terbakar? No one else.
Lantas, untuk apa merasa begitu? Kepada siapa rasa itu akhirnya terjadi? Juga..., mengapa mau-mau saja? jawabannya sederhana. Bukan mau, tapi terlanjur.
Aku pun menyadari, tak cukup rasanya penghargaan itu ada dalam hatinya. Sungguh, aku benar-benar mati rasa dibuatnya. Tidak tahu salahku yg mana lagi, tidak tahu apakah aku masih punya hak untuk berkata benar, well, tidak tahu.
Pantaskah aku marah? Pantaskah aku merasa bersalah?
Dilema menyerang tanpa ruang, aku hendak menghentikannya. Aku tahu ini berhenti, tapi akhirnya kematian hatiku menjulang tinggi. Hingga sekarang, tertawa pun gampang saja. Mengibaskan tangan pun gampang, apalagi berkata, "terserahlah" ...
Sebegitu desperate-kah? Bibirku menyunggingkan senyum lagi. Menghela nafas dan tunggu saja. Menunggu keputusan... Menunggu gudang kesabaranku.
Banyak yang berkata, sanggupkah aku menghadapinya? Aku tersenyum, pikiranku berkata tidak tapi hatiku berkata lain. Sampai kapan, sayang? ini pertanyaan hatiku. Jawabannya pun, aku hanya bisa bertahan sampai.... (semoga aku cukup bertahan tidak perlu memakai kata sampai).
Tapi siapa yang tahu dalam hati menjerit, menangis, meronta, terluka, dan terbakar? No one else.
Lantas, untuk apa merasa begitu? Kepada siapa rasa itu akhirnya terjadi? Juga..., mengapa mau-mau saja? jawabannya sederhana. Bukan mau, tapi terlanjur.
Aku pun menyadari, tak cukup rasanya penghargaan itu ada dalam hatinya. Sungguh, aku benar-benar mati rasa dibuatnya. Tidak tahu salahku yg mana lagi, tidak tahu apakah aku masih punya hak untuk berkata benar, well, tidak tahu.
Pantaskah aku marah? Pantaskah aku merasa bersalah?
Dilema menyerang tanpa ruang, aku hendak menghentikannya. Aku tahu ini berhenti, tapi akhirnya kematian hatiku menjulang tinggi. Hingga sekarang, tertawa pun gampang saja. Mengibaskan tangan pun gampang, apalagi berkata, "terserahlah" ...
Sebegitu desperate-kah? Bibirku menyunggingkan senyum lagi. Menghela nafas dan tunggu saja. Menunggu keputusan... Menunggu gudang kesabaranku.
Banyak yang berkata, sanggupkah aku menghadapinya? Aku tersenyum, pikiranku berkata tidak tapi hatiku berkata lain. Sampai kapan, sayang? ini pertanyaan hatiku. Jawabannya pun, aku hanya bisa bertahan sampai.... (semoga aku cukup bertahan tidak perlu memakai kata sampai).
Wednesday, July 21, 2010
Distance and Insecure But Will be Fine
Lama sekali aku tidak lagi menulis. Semenjak penuh dengan kejadian dan berbagai kesibukan... aku ingat seseorang tidak suka kalau aku menulis, mulai saat itu entah kemana kata-kata yang seakan menyatu dalam darahku..
Kini aku kembali lagi... setelah berbagai kebimbangan yang datang dan membuatku uring-uringan..
Aku sadar, tidak terlalu pantas merasa begini, karena sebenarnya aku tahu bahwa dalam hidupku aku punya seseorang, yang tidak pernah menyakitiku, Dia, Tuhan.
Hatiku hanya sering bertanya-tanya, di mana seseorang yang dulu pernah ada dalam keseharianku? katanya ketika jarak terpisah, perjalanan hubungan ini berlanjut... Tapi mengapa aku menemukan banyak keraguan dan nyaris putus asa?
Hatiku mencela, hei... ini hubungan biasa, persoalan biasa yang dialami orang-orang biasa... Seharusnya aku tahu dan tidak perlu khawatir. Seharusnya dengan mudah aku berjalan dengan dagu terangkat, sepasang earphone di kedua telingaku, tersenyum, berbicara, bercanda, meminum secangkir kopi atau coca-cola... tidak perlu peduli, apalagi stres. Ah, tenanglah, aku sedang mencobanya, sedang mencoba acuh tak acuh... Bukankah dia begitu? Tidak, aku tak sedang membalas perlakuannya, aku hanya ingin menyelamatkan diriku..., aku tidak mau lagi terperangkap pada jenis cinta yang begitu menakutkan, yang begitu membuatku bergantung, sama seperti dulu.
Pernah sekali aku ingin melontarkan perasaanku, bahwa dia, sama seperti dia. Tapi tidak jadi. Aku tahu aku punya segudang kesabaran untuk bertahan.
Kini aku kembali lagi... setelah berbagai kebimbangan yang datang dan membuatku uring-uringan..
Aku sadar, tidak terlalu pantas merasa begini, karena sebenarnya aku tahu bahwa dalam hidupku aku punya seseorang, yang tidak pernah menyakitiku, Dia, Tuhan.
Hatiku hanya sering bertanya-tanya, di mana seseorang yang dulu pernah ada dalam keseharianku? katanya ketika jarak terpisah, perjalanan hubungan ini berlanjut... Tapi mengapa aku menemukan banyak keraguan dan nyaris putus asa?
Hatiku mencela, hei... ini hubungan biasa, persoalan biasa yang dialami orang-orang biasa... Seharusnya aku tahu dan tidak perlu khawatir. Seharusnya dengan mudah aku berjalan dengan dagu terangkat, sepasang earphone di kedua telingaku, tersenyum, berbicara, bercanda, meminum secangkir kopi atau coca-cola... tidak perlu peduli, apalagi stres. Ah, tenanglah, aku sedang mencobanya, sedang mencoba acuh tak acuh... Bukankah dia begitu? Tidak, aku tak sedang membalas perlakuannya, aku hanya ingin menyelamatkan diriku..., aku tidak mau lagi terperangkap pada jenis cinta yang begitu menakutkan, yang begitu membuatku bergantung, sama seperti dulu.
Pernah sekali aku ingin melontarkan perasaanku, bahwa dia, sama seperti dia. Tapi tidak jadi. Aku tahu aku punya segudang kesabaran untuk bertahan.
Tuesday, July 20, 2010
Emerald
This is new... New post, new story... when i suddenly conscious that winter revenge it's just my old memories... Because this memories never come back, i just want to realized that my past love already gone, and missing in my heart.
Thanks for someone, who always be my inspiration in my old blog.. who give me a beautiful words to say..
Thanks for someone, who always be my inspiration in my old blog.. who give me a beautiful words to say..
Thursday, May 6, 2010
Silentness
Kini aku berpikir, betapa semua ini tampak berat bagiku. Banyak hal yang ingin kukatakan, yang ingin kuungkapkan, yang hendak kupertanyakan. Semuanya begitu rumit dan berputar seperti benang kusut di benakku.
Pernahkah KAMU menghargainya? Atau--agh. Rasanya aku yang salah punya rasa seperti ini. Kenapa tidak kubuka saja mataku? Kenapa tidak kuambil saja keputusan yang menjerit di hatiku? Tapi aku tahu mengapa aku masih saja mengulur..., karena menyakitkan adalah hal yang paling tidak diingini setiap manusia, benar bukan?
Aku sungguh lelah menghadapinya. Semua usahaku tampaknya sia-sia saja. Apakah benar begitu? Apakah masih ada cara lain? Apakah aku harus bertahan? Apakah aku bisa?
Seharusnya aku tak perlu bertanya, seharusnya aku jawab saja aku bisa. Tapi bagaimana mungkin bila dukungan yang kubutuhkan tidak mengalir mengisi ruang kosong di hatiku?
Ini..., ini jenis rasa yang seperti apa? Mengapa kurasakan setiap rasa yang tidak sama jenisnya dengan orang-orang yang pernah kulalui? Mengapa yang ini begitu mengerikan? Tapi mengapa dulu aku pernah bahagia oleh karena ini?
Semakin kupikirkan, semakin banyak pertanyaannya. Semakin lelah kucari jawaban, sejak si pemeberi jawaban sepertinya enggan berbicara. TT
Pernahkah KAMU menghargainya? Atau--agh. Rasanya aku yang salah punya rasa seperti ini. Kenapa tidak kubuka saja mataku? Kenapa tidak kuambil saja keputusan yang menjerit di hatiku? Tapi aku tahu mengapa aku masih saja mengulur..., karena menyakitkan adalah hal yang paling tidak diingini setiap manusia, benar bukan?
Aku sungguh lelah menghadapinya. Semua usahaku tampaknya sia-sia saja. Apakah benar begitu? Apakah masih ada cara lain? Apakah aku harus bertahan? Apakah aku bisa?
Seharusnya aku tak perlu bertanya, seharusnya aku jawab saja aku bisa. Tapi bagaimana mungkin bila dukungan yang kubutuhkan tidak mengalir mengisi ruang kosong di hatiku?
Ini..., ini jenis rasa yang seperti apa? Mengapa kurasakan setiap rasa yang tidak sama jenisnya dengan orang-orang yang pernah kulalui? Mengapa yang ini begitu mengerikan? Tapi mengapa dulu aku pernah bahagia oleh karena ini?
Semakin kupikirkan, semakin banyak pertanyaannya. Semakin lelah kucari jawaban, sejak si pemeberi jawaban sepertinya enggan berbicara. TT
Tuesday, March 30, 2010
Would U Mind, to... ?
Anybody wants to help me create a song with this lyric? I will be happy to hear that.. ^.~
Kumenanti waktu yang bergulir
Membuang takut dan percayaku
Kusimpan dirimu tanpa janji
Kuberharap semua kan bahagia
Bila suatu saat kau pergi
Ku tahu kau harus pergi
Bila suatu saat kau kembali
Kau kan tahu ku tak pernah pergi
I miss you, just go
I'll be waiting for you
Just come back to me
I'll know you love me...
Kumenanti waktu yang bergulir
Membuang takut dan percayaku
Kusimpan dirimu tanpa janji
Kuberharap semua kan bahagia
Bila suatu saat kau pergi
Ku tahu kau harus pergi
Bila suatu saat kau kembali
Kau kan tahu ku tak pernah pergi
I miss you, just go
I'll be waiting for you
Just come back to me
I'll know you love me...
Friday, February 5, 2010
Mungkin kamu menganggap aku hanya bercanda, pertanyaanku tidak masuk akal. Tapi saat itu aku telah menanyakannya, hanya kamu memang tidak mengerti, dan menuntut kejelasannya, lalu menolak mendengar kalimatku.
Entah iya atau tidak. Aku seperti tidak mengenalmu. Semakin lama, rasanya terlalu banyak hal yang membuat seolah aku adalah orang asing dalam hidupmu. Mungkin aku dalam keseharianmu, begitu juga sebaliknya, tapi di balik keseharian ini, masihkah ada hal lain yang sama-sama kita tutupi?
Sejauh mana dinding pemisah itu dibangun kuat-kuat?
Aku pernah mencoba mencari celah di dalamnya, mengambil sosok penyusup dan berharap mengetahui gambar apa di balik sorot matamu... Kisah yang membuatku penasaran setengah mati.
Ngomong-ngomong, itu daya tarik tersendiri bagiku. Sosokmu yang tidak luar biasa, tapi suatu kehidupan yang menyulapmu menjadi kuat. Kadang, itulah yang membuatku merasa polos dan terlalu naif memandang arti pikiran bagimu.
...
Tapi, setelah tiba-tiba kamu mengutarakannya, benarkah kamu melindungi kepercayaan rapuh yang kuberikan padamu? bisa atau tidak aku melangkah untuk mulai percaya lagi dan bersumpah meninggalkan sisa-sisa trauma yang menghantuiku?
Entah iya atau tidak. Aku seperti tidak mengenalmu. Semakin lama, rasanya terlalu banyak hal yang membuat seolah aku adalah orang asing dalam hidupmu. Mungkin aku dalam keseharianmu, begitu juga sebaliknya, tapi di balik keseharian ini, masihkah ada hal lain yang sama-sama kita tutupi?
Sejauh mana dinding pemisah itu dibangun kuat-kuat?
Aku pernah mencoba mencari celah di dalamnya, mengambil sosok penyusup dan berharap mengetahui gambar apa di balik sorot matamu... Kisah yang membuatku penasaran setengah mati.
Ngomong-ngomong, itu daya tarik tersendiri bagiku. Sosokmu yang tidak luar biasa, tapi suatu kehidupan yang menyulapmu menjadi kuat. Kadang, itulah yang membuatku merasa polos dan terlalu naif memandang arti pikiran bagimu.
...
Tapi, setelah tiba-tiba kamu mengutarakannya, benarkah kamu melindungi kepercayaan rapuh yang kuberikan padamu? bisa atau tidak aku melangkah untuk mulai percaya lagi dan bersumpah meninggalkan sisa-sisa trauma yang menghantuiku?
Saturday, January 30, 2010
Distance
Geez...! Happy new year for everyone on blogger. I'm sure it's tooo late. =b
Well, gag semuanya berjalan dengan lancar. Seingatku, aku memiliki beberapa rasa marah dan takut di awal tahun, tepat hari pertama bulan Januari dimulai. What a pity.
Tapi setidaknya, aku masih memiliki cinta, di samping aku begitu takut dengan tahun ini.
Aku bahkan tak ingin mengungkitnya--walau aku tahu, aku tak akan pernah bisa menghindari hal ini. Sekarang, setiap jejak yang pernah kuciptakan di belakang, mulai membayang bagai raksasa yang nyaris keluar dari persembunyian. Mungkin memang manis, tapi bila semua itu memori, dapatkah kamu mengulum senyum dan merasakannya senyata seperti kenyataannya? Kalau aku, mungkin tidak.
Itulah yang sedikit mengangguku. Aku tetap manusia biasa (klise, yah? =>), tapi jelas, setiap manusia menginginkan apa yang diinginkan manusia, termasuk di dalamnya, keberadaan.
Sudah mengerti?
Aku bilang padamu sekarang, apakah ketika nanti jarak itu ada, kamu akan tetap seperti kamu yang sekarang? atau perubahan itu akan muncul sedikit demi sedikit? Jujur saja, hal ini cukup membuatku enggan memikirkannya walau hanya sepersekian detik.
Well, gag semuanya berjalan dengan lancar. Seingatku, aku memiliki beberapa rasa marah dan takut di awal tahun, tepat hari pertama bulan Januari dimulai. What a pity.
Tapi setidaknya, aku masih memiliki cinta, di samping aku begitu takut dengan tahun ini.
Aku bahkan tak ingin mengungkitnya--walau aku tahu, aku tak akan pernah bisa menghindari hal ini. Sekarang, setiap jejak yang pernah kuciptakan di belakang, mulai membayang bagai raksasa yang nyaris keluar dari persembunyian. Mungkin memang manis, tapi bila semua itu memori, dapatkah kamu mengulum senyum dan merasakannya senyata seperti kenyataannya? Kalau aku, mungkin tidak.
Itulah yang sedikit mengangguku. Aku tetap manusia biasa (klise, yah? =>), tapi jelas, setiap manusia menginginkan apa yang diinginkan manusia, termasuk di dalamnya, keberadaan.
Sudah mengerti?
Aku bilang padamu sekarang, apakah ketika nanti jarak itu ada, kamu akan tetap seperti kamu yang sekarang? atau perubahan itu akan muncul sedikit demi sedikit? Jujur saja, hal ini cukup membuatku enggan memikirkannya walau hanya sepersekian detik.
Subscribe to:
Posts (Atom)