Setiap detik saatku teringat,
Entah memilih tersenyum atau bersedih,
Keduanya terasa, saat kau begitu berbeda.
Ketika bertanya pada perasaanku,
Dengan takut aku menjawab, “ya”,
Pada anggukan cinta yang tiada menentu…
Dengan takut pula aku menggeleng
Pada penegasan rasa yang juga tak tentu.
Kabur.
Sunyi.
Diam.
Ketika mataku melirik pada ponsel di atas meja,
Tiba-tiba nama singkat itu muncul,
Layar ponselku berkedip, sama dengan mataku yang berkedip terkejut…,
Bercampur dengan rasa hangat yang merayapi raga…
Tapi lalu setiap kata dan setiap kiriman semakin berbeda,
Dengan nada dan kosakata yang berbeda pula…
Nyaris air mataku jatuh,
“Seperti ini lagi,” desahku dalam hati.
Tak perlu berlama-lama merasa hangat,
Karena pada akhirnya dingin pun merambati tulang-tulangku.
Astaga, selalukah berakhir seperti ini?
No comments:
Post a Comment