Pages

Monday, March 19, 2012

Complicated

Sepanjang waktu, aku berpikir tentang ribuan pertanyaan, menghela untuk napas yang terasa berat, lalu menutup mata untuk mengusir banyak bayangan yang melintas. Tidak, jangan di sini...
Aku tidak ingin merasa sedih untuk sesuatu yang tidak jelas asalnya. Sekalipun semua ini jelas, aku tetap tidak ingin merasa sesedih ini. Bagaimana tidak? Di hadapanku muncul jumlah-jumlah orang yang kusayang, namun entah kenapa, dia berbayang kepergian. Dan aku tidak suka membayangkannya.
Takutkah aku pada kenyataan? atau pada masa depan? Atau pada waktu?

Mempercayaimu adalah sebuah hal di luar waktu. Adalah sesuatu hal yang tidak bisa kujelaskan dari mana keyakinan itu datang. Tidak banyak alasanku untuk merasa yakin pada diriku sendiri. Mungkin, inilah yang membayangi segala dasar ketakutan itu.
Seseorang bercerita padaku tentang dua sisi cara mencintai yang berbeda. Seseorang yang mencintai dengan sepenuh hati, dan seseorang lain yang mencintai dengan akal. Bagiku, mereka adalah keping emas yang tidak bisa dipisahkan. Dan aku tidak bisa memilih salah satu dari dua sisi itu.
Entah mengapa, kehadiranmu di sini membuatku terdiam. Terperangkap dalam sejumlah mimik yang membuatku bingung sendiri. Haruskah aku tertawa? Mengapa aku bersedih?

Sejujurnya, aku hanya ingin bersikap biasa-biasa saja. Tapi sekarang aku malah terlihat berlomba dengan waktu. Aku mampu bersikap baik-baik saja di hadapan orang lain. Tapi ini juga membuatku tersiksa. Menceritakan segala hal padamu, aku tahu itu mungkin melegakan, tapi aku tidak tahu apa yang akan muncul di pikiranmu. Dan pada akhirnya..., semua ini kembali tersimpan dalam hatiku.