Pages

Tuesday, July 27, 2010

BItter Decision, Sweet Memory

Ketika keputusan itu terbayang di benakku, aku gelisah. Entah mengapa seluruh jiwa seolah pahit dibuatnya. Mungkin benar aku terjebak, terjebak dalam situasi sulit yang membuatku lebih baik mengambil keputusan daripada semua ini terus berlanjut tanpa arah.
Aku diam. Hatiku tiba-tiba peka. Ragaku mulai mati rasa. Otakku nyaris terbelit. Langkahku terhuyung. Betapa aku pernah merindukan suara itu, betapa hatiku nyaris teriris melihat senyumnya yang datang di khayalku. Betapa..., kulitku terasa sakit ketika cinta mencambukku di tempat yang sama.
Setipis rasa kenikmatan antara dicintai dan disakiti, seperti itulah bayangmu di masa lalu dan sekarang. Antara bias warnamu kupilih merah muda, menjelma jadi abu-abu. Lalu kadang merah dan membakar... Sungguh kalau boleh jujur, aku ragu antara nyata atau tidak dirimu.
Ketika aku beranjak untuk percaya, dan jarak pun turun tangan serta menantangku tanpa janji, entah dirimu atau mungkin bukan lagi dirimu..., aku tetap ragu.. Hingga kini tidak ada satu manusia pun yang bisa membuatku tenang dalam kepercayaan. Aku tak mudah percaya. Dan sialnya kau tak mengingat hal itu, atau tak mengerti, atau kau pikir itu hanya hal kecil yang bisa diatasi. Salah besar.
Dan kau melakukannya....

No comments:

Post a Comment