Pages

Saturday, June 30, 2012

Lil bit Crash

Tiara Invanska melebarkan pandangannya ke segala penjuru. Suasana cafe yang nyaman, suara musik yang menenangkan telinga. Dan..., teman baru yang banyak. Mengelilingi mejanya. Tampaknya yang paling ramai dari segala pengunjung cafe.
Namun ada satu hal yang mengganjal hati Tiara. Yang berlanjut pada kenyataan bahwa--dirinya terasing. Tubuhnya memang berada di situ. Matanya memang mengamati setiap gerakan bibir yang bergerak cepat, tersenyum dengan cepat, raut wajah yang berekspresi dengan cepat, berganti dari takjub, senang, dan berganti-gantian. Tapi hatinya, tidak. Hatinya berkelana. Tidak, tidak. Hatinya mematung.
Tiara memandangi kekasihnya, Yuda Hinanta. Pria itu tersenyum. Matanya bercahaya, berbinar. Wajahnya penuh ekspresi. Dan jiwanya berada dalam lingkup jiwa-jiwa lain yang terhubung pada meja nomor delapan.
Tapi lagi-lagi tidak dengan Tiara.
Tiara tersenyum hambar. Diam-diam mencoba keluar dari dirinya sendiri. Mencoba memandang dari segi yang cukup objektif mengenai dirinya sendiri. Siapakah Tiara? Kekasih Yuda Hinanta. Kekasih si Pemilik karakter Sanguinis, si Populer. Kekasih yang begitu mencintai Yuda Hinanta. Kekasih yang kesulitan mendapatkan dirinya sendiri ketika bersama Yuda. Kekasih yang..., yang begitu kesepian terhadap lingkungan Yuda yang sangat ramai.
Tanpa sengaja Tiara Invanska mendesah. Sampai-sampai desahannya membuat Yuda menoleh. Tiara melihat mata itu. Kedua pasang mata yang menyiratkan bahwa mata itu mengerti. Mengerti arti dari desahan Tiara.
"Kamu mau pulang?"
Tiara tersenyum. Hatinya berat. "Tidak."
"Tidak nyaman?"
Lagi-lagi Tiara tersenyum. Kali ini Yuda tahu itu hanya paksaan. Dan karena Yuda mengetahuinya, hati Tiara semakin berat lagi menerimanya. "Aku tidak apa-apa. Serius, Yuda. Lanjutkan saja pembicaraanmu," Tiara memaksakan seulas senyum lagi.
Yuda mendesah. Kali ini pria itu yang mendesah. Lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada teman-temannya.
Yap. Benar. Tiara tahu ia sudah salah. Bukankah ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa nantinya, ia dan Yuda akan berada pada satu kehidupan yang lebih matang. Seharusnya ia bisa menerima lingkungan Yuda, keluarga Yuda, dan segala hal yang pernah ada di kehidupan Yuda sebelum Tiara mendampinginya, sebelum Tiara mengenalnya.
Tapi sekarang? Mengapa ia mengkhianati dirinya sendiri? Mengapa ia tidak pernah bisa membuat Yuda senang? Mengapa ia membebani Yuda dengan perasaan seperti ini? Membuat Yuda beranggapan bahwa Tiara tidak pernah mau bergabung dengan lingkungannya. Bahwa Tiara tidak suka dengan lingkungannya.
Benar. Kalimat terakhir itu yang menohok ulu hati Tiara. Bahwa Yuda mengira Tiara tidak menyukai lingkungannya. Padahal jawabannya bukan itu. Jawabannya sendiri pun Tiara tidak tahu.
Tiara mengira, dengan berlalunya waktu, ia akan berhasil menangani hal itu. Tiara bukan orang yang senang mengasingkan diri. Tapi tidak tahu apa yang terjadi padanya, kali ini ia malah tidak bisa berusaha menggabungkan dirinya dengan lingkungan Yuda.
Lagi-lagi, Tiara menghela napas. Pikirannya bertanya-tanya..., sampai kapan Yuda akan sabar menghadapi sikapnya? Ia takut, suatu saat Yuda akan meninggalkannya seperti hatinya yang tidak pernah ada dalam lingkungan Sanguinis Populer itu.
Begitu kah rasanya mencintai? Tapi tidak memiliki semuanya? Begitukah rasanya berbagi? Tapi mengapa semua itu sulit bagi Tiara? Entah sejak kapan, Tiara memilih bersikap seperti itu. Seharusnya ia tidak boleh seperti ini.
Hatinya berteriak. Sakit dan pilu. Adakah orang lain yang mengerti? Sedikit saja arti kesepian di tengah-tengah keramaian? Apakah hanya ia seorang yang mengalami seperti ini? Apakah kekasih-kekasih yang lain tidak pernah merasakan apa yang dialami Tiara? Atau mungkin, mereka pernah mengalaminya, tapi mereka bisa mengatasinya, lain halnya dengan Tiara.
Tiara tidak menemukan jawabannya. Ia tersenyum sinis kepada dirinya sendiri. Bodoh. Apa susahnya melakukan sedikit pengorbanan untuk Yuda? Setidak-tidaknya tersenyum dan bertanya lah. Berjabat tangan dan bertukar pandangan. Tapi tidak. Tak ada satu pun yang Tiara lakukan untuk Yuda. Ia hanya duduk diam. Seolah-olah meringkuk dalam sudut cafe. Mencari sebuah pelukkan, mencari sebuah perlindungan. Karena ia--orang asing. Karena ia, yang memiliki asumsi dan mengatai dirinya orang asing.
Sentuhan terasa di telapak tangan kiri Tiara. Tangan Yuda terasa begitu tepat dalam genggamannya. Seharusnya itulah perlindungan yang dicari Tiara. Sesaat ia merasa nyaman. Tapi Tiara menemukan kiasan lain dalam pandangan Yuda.
"Ada apa?" tanya Tiara. Hatinya cemas. Dan hatinya sudah bisa menebak.
"Kuantar pulang, ya?" Yuda menawarkannya dengan seulas senyum, namun sorot matanya sedih.
Tiara menggeleng.
Pandangan Yuda beralih, "Guys, gue pamit dulu, ya." seru Yuda.
Tiara tidak perlu melihat pandangan teman-teman Yuda. Perasaan Tiara mengatakan bahwa teman-temannya mengerti alasan pamitnya Yuda dari cafe itu. Dan ia tidak ingin sedang berpikir, tanggapan apa yang ada dalam kepala masing-masing mereka.
Ia merasa tangannya Yuda menuntunnya keluar. Perih dalam matanya tidak bisa ditahan. Sebab Tiara mengerti. Kesalahannya-lah yang membuat suasana hati Yuda menjadi dingin. Ia merutuki dirinya sendiri. Bodoh sekali. Besok pasti ia akan mengulangi janjinya pada dirinya sendiri, lalu kemudian mengingkarinya lagi dengan sadar.
Tiara merasa ia tidak berguna.

***



No comments:

Post a Comment