Pages

Wednesday, August 17, 2011

Abu-abu

Tidak tahu bagaimana caranya, menjalani suatu kehidupan dengan mata yang tertutup. seolah aku melihat, namun aku tidak tahu pandanganku ke arah mana. setiap hal yang terjadi membuatku merasa dipermainkan. setiap impian yang terukir pada awalnya terasa begitu polos tapi juga naif. Menjejakkan kaki ke mana hati ini ingin melangkah, tak urung membuatku bimbang pada setiap pilihan yang ku ambil. satu kata untuk mendeskripsikannya, dilema.

tahun demi tahun yang terlewati dengan sia-sia, membuatku berpikir semakin menjadi-jadi, sialnya, bagaimanapun usahaku untuk tidak memikirkannya, tetap saja tidak bisa.

menyalahkan siapapun, juga tidak bisa.

sulit rasanya untuk mencoba terbuka pada setiap makhluk yang namanya, sahabat. ketika dalam pikiranku, mereka adalah orang-orang yang berada pada sisi duka maupun suka, ternyata, sama sekali bukan. selama 4 1/2 tahun ini, kupikir aku berada pada komunitas yang hangat, tapi tak lebih dari sebuah komunitas wawancara, kau wartawan dan saya narasumber.

bahkan untuk menulis saja, aku perlu berhenti untuk menyaring. apakah sesulit ini?

beralih daripada sahabat, ketika aku memilikimu, aku merasa seperti memiliki kembaran secara emosional, yang menanggapi setiap emosi dalam raga juga jiwaku, yang marah pada belahan sisi yang membuatmu kesal dan kecewa, yang bahagia pada sisi lainnya ketika kamu, menganggap kita cukup wajar untuk merasa bahagia.

aku tidak kecewa, sekalipun aku tidak bilang aku tidak merasa ternganggu. banyak hal yang aku tahu dan sadar, bahwa suatu saat aku harus berbagi kehidupan pribadiku pada orang-orang yang eksklusif di mataku. tapi, aku masih canggung. silahkan beranggapan itu mudah bagi orang lain, tapi aku memang bukan orang lain.

beralih lagi pada hal yang tidak pernah lepas dari benang-benang pikiran ini. aku bahkan tidak sanggup untuk merasakan euforia yang pernah aku rasakan dulu, sebelum, seorang kawan lama datang dan menghempasiku dengan sejuta khayalan, well, lebih baik aku bilang, kalau itu kesalahan yang kuperbuat, nekat.

rasanya seperti sebuah film, yang mengalami pemutaran dan pengulangan lagi dan lagi. aku lelah, walau baru sekali seumur hidup hal ini aku rasakan. aku tidak tahu bagaimana caranya menghadapi hari itu, hari dimana aku masih tidak tahu apa yang akan terjadi, bertemu setiap orang asing yang mungkin akan seruangan denganku. katakanlah, bahwa aku terlalu rumit memikirkannya, tapi pikiran itu tidak juga lepas dari bayang-bayangku.

Aku tidak bisa mengulang setiap masa yang pernah kulalui dengan penyesalan, kecuali berdamai dengan masa lalu. Berdamai pun, tidak akan pernah terasa seperti membuka lembaran baru, tidak, tidak akan pernah.

Lantas sekarang, di manakah aku di tempatkan? saat klimaks dan anti klimaks dalam hidupku mengawang di langit-langit kehidupan ini, ritme dan arus yang harus aku hadapi lagi-lagi terasa terlalu kencang.

bahkan, aku tidak pernah ingin untuk menghadapi semua secara satu waktu. tapi rupanya, inipun pengecualian untukku.

No comments:

Post a Comment