Meskipun aku tidak bisa mengingkari bahwa sebegitu banyaknya masalah yang bertumpuk, tapi hari ini, ada sepotong kalimat yang membuatku menganggukkan kepala berkali-kali, serta merekam kalimat itu berulang-ulang dalam benakku, hanya supaya aku mengingat, dan juga melakukannya, ini dia : "Pilihlah kebahagiaan. Setiap detik kau memilih marah atau bersedh, saat itu pula kau melepas kebahagiaanmu."
Mudah, ya. Sulit, ya betul juga. Kontranya adalah, mana ada orang yang bisa merasa bahagia saat semua hal, semua kesulitan menekanmu pada saat yang bersamaan, bertumpuk pula? lalu, mana ada orang yang bisa tertawa--jangankan tertawa, tersenyum pun, saat kau seolah berjalan di atas batu-batu yang tajam?
Pro-nya adalah, singkat saja, lakukan saja, dan lihat hasilnya.
Tidak ada yang sebegitu spesial hari ini, tidak ada kejutan menarik hari ini, apalagi di saat aku begitu merindukan seseorang, atau mungkin orang-orang yang lain yang juga memiliki status penting di hatiku, dulu.
Tapi ada satu hal..., yang membuatku ingin bercerita, dan mengetikkan huruf-huruf pada blog ini.
Aku memiliki seorang teman, yah jika bisa dibilang seperti itu. Pada awalnya, kami tidak dekat, kami juga tidak punya keharusan untuk saling mengenal satu sama lain. Dan sampai sekarang begitu. Tapi anehnya, dalam dirinya yang phlegmatis melankolis, aku merasakan aura yang sama pada diriku, ketika aku tiba-tiba merasa jalan pikiran kami sama, atau kadang-kadang kami merasa hal yang sama.
Aku sedang membicarakan seorang teman.
Aku senang ketika melihatnya tersenyum, sekalipun ia jarang sekali tertawa lepas. Sesekali aku memperhatikannya, dan bertanya-tanya bagaimana caranya supaya dia bisa melepaskan sedikit bebannya, dan membaur dalam kebersamaan atau kebahagiaan.
Apakah itu sebuah empati? Mungkin. Aku bisa merasakannya, sekalipun aku dan dirinya tidak memiliki masalah yang serupa. Masalah kami jauh berbeda, atau mungkin ada yang sama, tapi kami beda total. Bahkan, aku tidak tahu dengan persis apa yang dia alami, tapi aku tahu itu berat.
Hanya perasaan yang dia rasakan, seolah menyerupai apa yang aku rasakan.
Rasa hangat mengalir dalam hatiku ketika aku melihatnya tertawa. Aku hanya tidak bisa melihatnya stress. Tidak, itu menyedihkan. Sekalipun aku ingin mengenalnya lebih dalam sebagai seorang sahabat, aku merasa kata itu akan terlalu jauh. Karena itu, sekarang, aku berharap dia sedang tertidur pulas tanpa beban, yah untuk hari ini. Dan kalau bisa di hari-hari lain juga, tapi bagaimanapun kondisi hatinya, aku tidak akan terlalu tahu, lagipula, aku sendiri heran mengapa tiba-tiba aku menjadi pemerhati orang-orang seperti ini, yah, khususnya hari ini.
Ngomong-ngomong tentang sahabat, betapa aku merindukan hal itu.
Berbagi suka dan duka, berbagi tawa juga tangis. Sebagai sahabat, bukan hal lain.
Tapi rasanya, semakin banyak mengenal orang lain dan semakin dalam mengetahuinya, orang-orang yang seharusnya tidak mengecewakan kita, malah membuat kita kecewa.
Itu sebabnya, kadang aku merasa pesimis menemukan jenis orang yang bisa dianggap sebagai sahabat.
Pertanyaannya adalah, adakah sahabat yang seperti itu di dunia ini?
Hatiku menggumam kecil dari tadi, gatal sekali ingin meneriakkan bahwa itu mustahil..., tapi sebagai insan sosial, bukankah itu yang kita butuhkan selama ini?
Menemukan, mencari, dan bermimpi memiliki dua pasang mata yang lain, dua telinga yang lain, dan satu mulut yang lain, true friend.
No comments:
Post a Comment